Featured

    Featured Posts

  • dimana kehidupan
  • disitulah jawaban

Iwan Fals Jadi Inspirasi Super Hero

Iwan Fals Jadi Inspirasi Nama Tokoh Super Hero. Siapa tak kenal Iwan Fals? Musisi legendaris Indonesia pelantun Oemar Bakri itu lho :) . Tahu gak bos? Baru-baru ini nama Iwan Fals dijadikan inspirasi untuk nama tokoh super hero di komik THE UNEXPECTED karya om Steve Orlando lho. Komik ini bagian dari New Age Of DC Heroes.

Tanpa bertele-tele langsung saja ya bos.

Siapakah nama toko super hero itu? adalah Janet Fals nama tokoh tersebut. Paramedic yang jantungnya digantikan benda bernama CONFLICT ENGINE. Tiap hari si Janet Fals harus mengajak orang untuk berkelahi agar dia tidak mati.

Komik ini diinfokan akan dirilis pada 6 Juni 2018 mendatang dengan harga $2.99

sumber : twitter Steve Orlando

Iwan Fals Jadi Inspirasi Nama Tokoh Super Hero
Iwan Fals Jadi Inspirasi Nama Tokoh Super Hero

Iwan Fals Jadi Inspirasi Nama Tokoh Super Hero
Iwan Fals Jadi Inspirasi Nama Tokoh Super Hero

Daya Hidup Iwan Fals Bagian 3

Daya Hidup Iwan Fals Bagian 3. Tak sedikit yang berpendapat bahwa Iwan seolah kehilangan taji-nya setelah Reformasi. Ia tak lagi kritis, katanya, tak lagi galak dan berani. Ia menua dan melunak. Lagu-lagu tentang politik dan ketidakadilan seolah digantikan lagu-lagu cinta. Ia lebih banyak merenung, lebih sedikit berorasi. Sebagian merasa waktunya sudah habis.

Daya Hidup Iwan Fals
Daya Hidup Iwan Fals

Iwan tersenyum simpul saat saya menyampaikan pendapat ini. “Setelah Soeharto turun, kita gonjang-ganjing terus.” Ucapnya. “Diskusi politiknya semakin seram. Kamu lihat saja acara-acara debat dan wawancara politik di televisi. Dulu, enggak ada yang kayak begitu. Saya walau suka mengkritik, enggak pernah tuh menuding.”

“Dan hiburan sudah luar biasa,” lanjut Iwan. “Olahraga ekstrim, sepeda gunung, bungee jumping. Pas zaman Bento, ekspresi orang belum segitunya. Saat itu lebih sederhana: orang dengar lagu, lantas ada pelepasan. Sekarang, lagu kayak Bongkar sudah banyak. Lo dengerin saja omongan orang-orang di jalanan.”

Ia menatap saya lekat-lekat dan melanjutkan. “Apakah sekarang kita perlu lagu yang lebih ‘ganas’ dari Bongkar? Saya juga enggak tahu.” Tuturnya. “Tapi, dia harus memberi pelepasan dan adrenalin yang sama dengan bungee jumping, sepeda gunung, dan olahraga ekstrim. Sama dengan diskusi politik di televisi. Sekarang ini, kalau kita tidak menjawab adrenalin massa, orang bakal bilang lo basi. Apakah kita harus jauh lebih gila lagi, supaya bisa menyedot perhatian mereka?”

Namun, ia mengaku bahwa ia sendiri kerap diminta membuat lagu baru yang ‘keras’. “Banyak yang bilang, ‘Ini zaman orang lagi marah-marah, harusnya lo lebih galak lagi, dong!’ Tapi, saya juga punya sikap. Kalau sekadar untuk aksi dan reaksi, buat apa?”

Lebih jauh lagi, ia merasa tema-tema yang diangkat di lagu seperti Bento dan Bongkar masih relevan hingga kini. “Ceritanya masih sama.” Lanjut Iwan. “Masih tentang Bento, masih tentang wakil rakyat, masih tentang mimpi yang terbeli. Kita masih bisa membicarakan itu. Lantas, mesti dibikin apa lagi? Saya tidak mau terjebak di situ. Lebih baik saya tarik nafas saja.”

Ia tersenyum lebar, seolah-olah baru saja melepas beban berat. “Saya masih percaya pada ketenangan.” Tuturnya. “Itu sumber kekuatan.”

Ketika ia merekam album terbarunya, SATU, ia sempat berbeda pendapat dengan produsernya, Steve Lilywhite. “Dia bertanya pada saya, ‘Apa yang penting dibicarakan sekarang?’” kisah Iwan. “Dia bilang, kita harus mengangkat soal peralihan kekuasaan, soal Presiden baru, soal protes. Tapi saya jawab, enggak begitu. Cinta tetap penting. Harmoni, daya hidup, itu yang penting.”

“Bukan politik?” tanya saya.

Iwan menggeleng. “Saya merasa seperti melempar garam di lautan.” Tuturnya. “Buat apa? Semua orang juga sudah ngomongin itu. Memang, politik itu penting. Tapi, ada lagi yang lebih penting. Pikiran baik lebih penting. Cinta lebih penting.”

Album kolaboratif dengan musisi-musisi besar seperti NOAH, Geisha, dan d’Masiv itu dirilis tahun 2015 dan sukses – walau Iwan sendiri mengaku tak menyadari kesuksesan album tersebut. “Saya dapat kabar, video klip lagu saya ramai.” Kisahnya sembari terkekeh. “Tapi, saya enggak lihat di TV. Rupanya sekarang lebih banyak di Youtube, ya?”

Saya mengangguk. Tahun lalu, ia merekam ulang lagu Manusia Setengah Dewa dengan dua musisi asal Afrika Selatan – Simphiwe Dana dan Yasiin Bey. “Saya malah belum pernah ketemu mereka.” Ujar Iwan. “Semuanya lewat email. Canggih, kan?”


“Musik itu penggalan waktu. Dan dalam waktu, kita bermain. Kita isi dengan kebaikan, kita isi dengan kejahatan. Ambisi saya sekarang adalah menghayati jalannya waktu.

“Bisa saja saya menghilang. Enggak ada di TV, enggak kelihatan. Tapi, percayalah: saya masih ada di musik. Saya enggak akan meninggalkan musik. Musik sudah terlalu banyak memberi bagi saya. Saya tidak mungkin mengkhianati itu. Bentuknya bisa macam-macam. Tapi, soal yang hakiki...”

Adzan Maghrib memecah percakapan kami. Iwan menengadah dan mengangguk. Saya paham – ia meminta saya secara halus untuk menyelesaikan wawancara. “Untuk apa saya konser, apabila saya harus mengkhianati nurani saya? Mending saya masak di rumah, nulis, melukis.”

Ia terdiam lama. “Jadi, memang... Saya semakin tenang belakangan ini.”


Keesokan harinya setelah wawancara kami, Iwan berangkat pagi-pagi buta ke Palembang untuk melanjutkan tur. Ia melatih 15-20 lagu yang sama, berangkat dengan orang-orang yang sama, dan merajai panggung seperti biasa.

Seperti Sisyphus, ia harus rela melihat batu yang ia dorong ke puncak gunung menggelinding lagi ke bawah. Seperti Sisyphus, ia harus rela memulai lagi dari awal, seolah-olah semua itu hal yang lumrah dan hakiki. Seperti Sisyphus, ia harus belajar menerima dan hidup apa adanya. Pada akhirnya, daya hidup harus menang dari daya mati. (*)

Sebelumnya baca bagian 1 disini  dan bagian 2 disini !


oleh : Raka Ibrahim
foto : George Mandagie

Sumber : Ruang



Daya Hidup Iwan Fals Bagian 2

Daya Hidup Iwan Fals Bagian 2. Belakangan ini, tuturnya, ia belajar banyak. Ia sempat mencoba memecahkan batu bersama pekerja yang membangun jalan di dekat rumahnya. Iwan terkekeh mengenang pengalaman itu. “Saya jadi ingat cerita Sisyphus,” kisah Iwan. “Dia orang yang mendorong batu sampai ke atas gunung, dan batu itu langsung jatuh lagi ke bawah. Tapi, dia harus mengulang dan angkat batu itu lagi.”


Daya Hidup Iwan Fals
Daya Hidup Iwan Fals



Kisah yang dipopulerkan lagi oleh filsuf Albert Camus itu membuat Iwan terhenyak. “Proses kreatif juga seperti itu.” Terangnya. “Saya bikin beratus-ratus lagu, dan dari dulu sampai sekarang masih do-re-mi juga. Tapi, saya bikin lagi!” Iwan tertawa terbahak-bahak. “Apa bedanya sama Sisyphus? Apa bedanya sama orang yang mecahin batu dan bikin jalan? Apa bedanya sama orang yang bertani, panen, lalu harus bertani lagi?”



Semua orang menjalani siklusnya masing-masing. “Kapan selesainya? Tentu kalau ajal sudah tiba.” Ucap Iwan. “Selama itu belum terjadi, enggak ada urusannya kita menyerah. Kalau harus diguling lagi batu itu dari bawah, maka angkatlah. Itu yang harus dilakukan. Karena kita punya anak, kita punya keluarga. Kalau kita loyo, mau bagaimana?”

“Meminjam istilah Rendra, daya mati sama kuatnya dengan daya hidup.” Lanjut Iwan. “Orang yang berpikiran berbeda akan bilang, ‘Buat apa gue ambil batu lagi? Percuma.’ Ya sudah, selesai saja hidup dia. Dia tidak perlu angkat batu lagi. Tapi dia habis. Dia pengecut.”

Tahun ini, Iwan akan berusia 56 tahun. Meski ia masih mengajar karate setiap pekan, ia mengaku tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Ia sudah tak bisa salto, tak bisa mencium lutut. Ia juga kian akrab dengan sakit pinggang, encok, dan masuk angin.  “Mensyukuri usia 56 tahun ini tantangan bagi saya.” Ucapnya sembari terkekeh.

Apabila ia tak bisa bersyukur, ujar Iwan, tak ada gunanya lagi hidup. Ia berpura-pura mengambil pistol dan menarik pelatuk imajiner itu di samping kepalanya sendiri.


Galang Rambu Anarki, anak pertama Iwan, punya tokoh favorit bernama Gringgrong. Tokoh imajiner itu adalah “seorang jagoan ‘kayak Tarzan’ yang bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan mengalahkan musuh.”


Pada tanggal 24 April 1997, Galang pulang ke rumah sekitar pukul 11 malam setelah latihan band. Ia pamit tidur, masuk ke kamarnya, dan ditemukan meninggal dunia lima jam kemudian. Pada Andreas Harsono, Iwan mengaku bahwa meninggalnya Galang “menjadi ‘api’ buat dirinya dalam bermusik.”


Harsono menulis: “Ketika Iwan memandikan jasad anaknya, dia berujar berkali-kali, ‘Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum... Lang, kamu sudah selesai, Papa yang belum...’”

Pada tahun 1981, ia dikontrak label besar Musica Studios dan melepas album Sarjana Muda. Lagu andalan album tersebut, nomor country berjudul Oemar Bakri, berkisah tentang pegawai negeri yang gajinya “seperti dikebiri.” Setahun kemudian, kelahiran Galang disambut dengan kenaikan harga bahan bakar. Lantas, Iwan merilis lagu folk murung berjudul sama di album Opini, dan ia mulai dikenal sebagai penyanyi yang kritis.


Namun, meski Iwan menerima julukan tersebut dengan lapang dada, ia sendiri mengaku tak pernah berusaha menjadi penyanyi yang politis. “Saya enggak punya niatan untuk mengkritik juga.” Tuturnya. “Selama di zaman Orde Baru, saya cuma merasa bosan. Apa enggak ada orang lain di Indonesia yang bisa jadi pemimpin kecuali Soeharto? Tapi, sama sekali enggak ada kebencian. Sebagai musisi, tugas saya cuma curhat. Yang penting saya mengeluarkan apa yang ada – tidak dilebih-lebihkan, tidak dikurang-kurangi.” Baginya, bernyanyi tentang cinta dan kehidupan sama sahnya dengan bernyanyi tentang ketidakadilan.

“Tapi, saya bisa bertanya balik: apa ada orang yang lepas dari politik?” tanyanya. “Saya memang tidak suka melihat orang ditindas, karena saya sendiri tidak mau ditindas. Sekarang, siapa yang tidak tersentuh kalau melihat ketidakadilan? Mana ada orang yang bercita-cita menjadi blangsak, menjadi bajingan?” Ia menghela nafas panjang dan menggaruk-garuk telapak tangannya. “Saya juga enggak tahu apakah pikiran saya benar atau salah. Tapi, ini negeri bebas. Ini negeri hukum. Saya bebas bersuara.”

Suaranya semakin lantang di Senayan, tanggal 23 Juni 1990. Saat itu, Iwan bergabung dalam kelompok bernama Kantata Takwa – sebuah supergroup beranggotakan Iwan, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, Setiawan Djody, dan banyak musisi kelas kakap lain. Sebelumnya, sebagian dari kelompok tersebut sempat merilis album Swami I yang menghasilkan dua lagu klasik: Bento dan Bongkar. Hingga kini, dua lagu itu masih dikenang sebagai titik puncak perlawanan politiknya.

Ketika Indonesia dipimpin oleh diktator dan tentara sibuk membantai rakyatnya sendiri, Iwan memimpin lebih dari 100 ribu orang dalam koor massal: “O o ya, o ya, o ya, bongkar!”


foto : George Mandagie

Daya Hidup Iwan Fals Bagian 1


Daya Hidup Iwan Fals Bagian 1. Kita semua kenal beliau. Dari pengamen di pinggir jalan, dari pendemo di alun-alun, dari nyanyian lembutnya di kaset dan radio. Kita semua hafal setidaknya satu-dua lagunya. Entah lagu tentang anak kecil yang berkelahi dengan waktu, tentang kelahiran yang disambut naiknya harga BBM, atau tentang pengusaha tamak, melawan penindasan, dan pesawat tempur. Kita semua tumbuh dewasa mendengar suaranya, petikan gitarnya, wejangannya.


Daya Hidup Iwan Fals
Daya Hidup Iwan Fals

“Mungkin saat itu jodoh saja.” Tuturnya. “Umur saya masih muda, baru lulus kuliah, ada teman-teman yang demo dan ditangkapi. Saya ingin bersuara. Ingin menyanyi tentang apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan. Lantas tiba-tiba berkembang begitu saja.”

Iwan Fals menjabat tangan saya erat-erat dan tersenyum lebar. Ia baru selesai latihan di studio rumahnya, mempersiapkan 15-20 lagu untuk konser yang biasanya berlangsung lebih dari dua jam. Percakapan kami sempat tertunda selagi menunggu beliau rehat dan sembahyang. “Besok pagi berangkat lagi, mas.” Ungkapnya. “Konser.”

Saya mengangguk. “Masih kuat, mas?”

Ia tergelak. “Dijalani saja.”

Leuwinanggung mendung berat sore itu. Masih ada waktu untuk mengobrol panjang sebelum Maghrib tiba. Iwan bersandar di kursi dan membersihkan sisa air wudhu dari kerah bajunya. “Kita ngobrol santai saja, ya?” Ucapnya. “Sambil ngopi, mengalir saja.” Tak ada yang berani membantah. Ia manusia setengah dewa.

Iwan lahir di Jakarta, 3 September 1961. Bapaknya seorang kolonel, Ibunya pekerja sosial. Keluarga kecil itu sempat tinggal di Arab Saudi, sebelum akhirnya menetap lama di Bandung. Di sanalah Iwan muda mulai bermusik. Ia mengamen di jalanan Bandung untuk melatih kemampuannya mengarang lagu, dan menajamkan kepekaan sosialnya.

“Orang tua saya cukup membuka pikiran dan hatinya untuk saya berekspresi.” Kenang Iwan. “Jadi, enggak ada rasa takut tentang apapun. Mereka cuma bilang ke saya, ‘Yang penting kamu jangan melanggar hukum.’” Selebihnya, terang Iwan, ia dibebaskan untuk bersuara, berpikir, dan beropini. Perangai yang terbilang langka bagi keluarga di zaman itu.

Sekitar tahun 1984, ia berkenalan dengan penyair W.S Rendra. “Saya dikasih tahu: rupanya ada hukum alam, hukum sosial, dan hukum diri sendiri. Dia mengingatkan saya, ‘kalau lo langgar hukum alam, akan ada bencana alam. Kalau lo langgar hukum sosial, lo dipenjara. Kalau lo melanggar hukum diri sendiri, lo sakit.’” Wejangan Rendra membuat Iwan teringat pada nasihat orang tuanya. Rupanya, tiga prinsip itulah ‘hukum’ yang mereka maksud.

“Kalau saya lupa, saya kembali ke situ.” Tutur Iwan. “Saya ingat-ingat lagi. Prinsip itu yang menolong saya juga. Ada sesuatu yang bisa jadi acuan.”


“Sebenarnya, keyakinan saya sederhana.” Ucap Iwan. Ia mengingatkan saya tentang tiga hukum yang dituturkan Rendra, lantas geleng-geleng kepala. “Tapi, begitu saya nonton televisi, baca koran, dengar cerita teman... Kok susah, ya, menerapkannya?”

“Mungkin itu makna dari hidup.” Lanjutnya. “Memperjuangkan hal-hal yang sederhana.”

Iwan tersentak dari lamunannya. Ia kembali mempersilakan saya mencicipi tape goreng yang masih hangat di balik tudung saji. Saya mengangguk dengan sungkan, dan menunggu beliau lanjut berbicara.

“Begitu saya lihat berita di mana-mana, saya juga bingung. Saya harus bagaimana? Akhirnya jadi syair, jadi lagu.” Tuturnya. “Meminjam istilah Rendra, saya harap lagu itu menginspirasi daya hidup. Toh, mau bagaimanapun juga, kematian sudah pasti. Kita tinggal bicara tentang kehidupan ini.” Menulis lagu, baginya, adalah cara melawan perasaan putus asa. Bagi dirinya sendiri, dan siapapun yang kebetulan mendengar.

“Yang penting, bagaimana kita hidup dan menginspirasi orang tanpa dia sadar kalau kita sedang memberi inspirasi pada dia.” Lanjut Iwan. “Supaya harmonis saja, supaya ada keseimbangan. Tidak ada pretensi apa-apa.”



foto : George Mandagie

Selamat Ulang Tahun Iwan Fals ke-55

Bulan September ini bang Iwan akan ber-Ulang Tahun yang ke-55 tahun.
3 September 1961

Tetap Semangat dan Tetap Berkarya bang Iwan .



Berikut, sedikit corat-coret yang bisa dwisTROi buat sebagai ucapan Ulang Tahun untuk Bang Iwan.
Silahkan bisa kamu copy, dan bisa dipakai untuk DP BBM, profile FB, whatsapp dsb.

Semoga bermanfaat.


Selamat Ulang Tahun Iwan Fals ke-55
Ulang Tahun Iwan Fals ke-55

Selamat Ulang Tahun Iwan Fals yang ke-55
Ulang Tahun Iwan Fals

Gerhana Matahari dalam Lirik Lagu Iwan Fals

Gerhana Matahari dalam lirik Lagu Iwan Fals

Secara umum, tema yang diusung lirik lagu Iwan Fal dapat digolongkan menjadi enam golongan. Antara lain tentang patriotisme dan cinta tanah air, lingkungan hidup, kritik dan keadilan sosial, gaya hidup, cinta, dan yang terakhir tentang rakyat kecil dn kepedulian sosial. (M.A. - Fals, Nyanyian di Tengah Kegelapan)

Termasuk peristiwa alam Gerhana Matahari, dijadikan beliau sebagai inspirasi untuk menciptakan lagu.
Puisi Gelap...

Lirik dan Video bisa langsung cek dibawah ini ya bos.

(koreksi jika ada kesalahan penulisan)

Puisi Gelap
Iwan Fals & Jabo (Album Orang Gila 1994)

Langit gelap
Jutaan gagak hitam memenuhi langit
Datang dari goa goa yang gelap dan lembab
Dari padang yang kering tandus
Merentang sayap berputar putar mengerikan

Suaranya melengking menyayat
Amarah yang terpendam amarah tertahan
Gentayangan bagai mayat bangun dari kuburan
Karena mereka pun tak mau menerima

Gerhana matahari gerhana hidup
Mereka menutupi cahaya matahari
Memakan bangkai dari apa saja yang tersisa
Hinggap diatas tanah diatap rumah
Di dahan dahan pohon yang mati kering
Mengintai mangsa
Menanti bangkai temannya sendiri yang mati kelaparan

Bau bangkai menyengat dimana mana
Saling menerkam diantara mereka sendiri
Sekedar bertahan dari kematian yang segera datang menjemput

Tak ada cahaya matahari
Tak ada cahaya kehidupan
Tak ada apa apa
Hanya ada ketegangan dan keganasan
Ketegangan yang mengandung bencana

Gagak gagak terus berputar semakin banyak
Marah pada apa ?
Marah pada siapa ?
Marah pada marah yang tak terlampiaskan

Sampai pada saatnya nanti
Mereka jatuh terkapar dan mati

Tapi dimana cahaya kehidupan ?
Tak ada yang tahu

Hanya ada jutaan bangkai gagak
Berserakan berbau amis dan busuk

Ah
Bau busuk kehidupan
Menyusup menebar ke sudut sudut kota



Puisi GelapIwan Fals & Jabo (Album Orang Gila 1994)-------5545C430#iwanfals #kaosiwanfalsYT Kiki H
Posted by kaos iwan fals on Tuesday, March 8, 2016

Video Iwan Fals Janji Jokowi

Iwan Fals sukses menggelar konsernya yang bertajuk 'Untukmu Indonesia', pada akhir tahun 2015 lalu.

Konser yang berlokasi di Istora Senayan, Jakarta Pusat tersebut, Iwan Fals masih membawakan lagu-lagu yang temanya masih relevan dengan kondisi sosial-politik Indonesia saat ini.

Iwan Fals Janji Jokowi


Liriknya memang tidak begitu keras tapi lebih kepada semacam mengingatkan saja, bahwasanya jokowo pernah berjanji ini itu pada masyarakat waktu pemilu. Karena lagu ini pula memang kesanya malah mendukung jokowi. "Tidak ada urusan dukung-mendukung, yang ada urusan saya mendukung Indonesia," lanjut Iwan disambut riuh penonton.


"Bagaimana mewujudkan mimpi-mimpi, tentu kesepakatan kita bersama lewat presiden terpilih. Saya catat janji-janji itu. Mudah-mudahan ini menjadi support untuk Indonesia ke depan lebih baik lagi," tutur Iwan.

Menagih apa yang pernah diucapkan sang presiden, lagu Janji Janji Jokowi pun mengalun diiringi petikan gitar akustik Iwan.

Janji jokowi semoga terbukti
Janji Jokowi dinanti-nanti
Janji Jokowi bukan janji sembarang janji
Janji Jokowi janji presiden RI...

Janji Jokowi semoga bukan janji kompeni
Janji Jokowi semoga bukan janji surgawi


begitu penggalan lirik lagu tersebut


Agar lebih jos lagi, silahkan saksikan video rekaman konsernya dibawah ini



Janji Jokowi - Konser Iwan Fals Untukmu Indonesia...BB 5545C430...upload oleh Priadarsini D#soretugupancoran -#soretugupancoran -#hijau#janjijokowi
Posted by kaos iwan fals on Wednesday, February 24, 2016

Iwan Fals Suara Indonesia KompasTV



Iwan Fals Suara Indonesia KompasTV. Kompas TV sebagai TV berita dan inspirsi Indonesia memberi penghormatan bagi mereka yg telah menggemakan Suara Indonesia



Meriah bersama Penampilan Spesial Iwan Fal & Band

serta artis-artis lainnya.

Suara Indonesia
Kamis, 28 Jan 2016
19.30 WIB
Live KOMPAS TV



 Info lengkp bisa juga dilihat dalam video berikut :
Suara Indonesia
Suara IndonesiaKompas TV#iwanfals #kaosiwanfals
Posted by _dwisTROi_ for your fals collection on Sunday, January 17, 2016

Sipkan kopimu Bos, silahkan duduk paling depan*




*Paling depan TV masing-masing

Download Kalender 2016 Gambar Iwan Fals

Hallo Bos. Tidak terasa sebentar lagi sudah mau masuk tahun 2016. Meskipun tahun 2016 masih beberapa hitungan hari lagi (saat postingan ini kami tulis), tidak ada salahnya jika kamu sudah mulai memilikinya dari sekarang, karena mungkin saja kamu butuh untuk memprediksi sesuatu di hari dan tanggal pada tahun 2016 mendatang, entah itu untuk menghitung seberapa lama lagi Kredit /Cicilan Motor kamu mungkin, atau menghitung penanggalan acara-acara penting tahun 2016 seperti kapan Ujian Sekolah/Kuliah, Nikah atau menandai info Jadwal Konser Iwan Fals dll, betul kan ?



Makanya malam ini dwisTROi mau bagi-bagi cenderamata berupa Kalender 2016 bergambar Iwan Fals "GRATIS". Spesial buat Kamu.

Tentang Kalender 2016 Bergambar Iwan Fals
Nama kalendernya adalah Kalender FALS 2016. Kalender 2016 ini merupakan sebuah template yang sudah siap untuk dicetak.

Jadi, nantinya kamu bisa mencetak/print masing-masing.

 Kami berikan dua pilihan design berbeda, silahkan download salah satu ataupun keduanya melalui link download dibawah ini.

Stok Foto
Stok foto yang digunakan dalam kalender ini adalah foto-foto yang kami ambil dari Google.


Download :  

Kalender Iwan Fals Gratis
Kalender Iwan Fals Gratis

 password : dwistroi.com

*jika ada kesalahan penulisan hari, tanggal dsb. Harap beritahu kami ya bos.

Iwan Fals Konser di Jogja Lagi

Sebelumnya dwisTROi menguncapakan Selamat HUT ke 259 untuk Kota Jogja, pas saat tulisan ini ditulis (7 Oktober 2015).




Akhir bulan ini, Kota Jogja akan kembali kedatangan Sang Legenda Musik Indonesia dalam acaraYOGYAKARTA Wismilak Diplomat Mild PassionVille.

Acara akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 24 Oktober 2015, pukul 21:30 s/d 23:00 WIB di Stadion Kridosono - Jogja.

HTM sangat terjangkau Rp. 15.000 saja.

Tiket bisa didapat melalui :

Solo Radio 92.9 -Solo dan Swaragama Yogyakarta.

Untuk yang dari luar Jogja, pemesanan bisa melalui Indomaret (Seluruh Indonesia).


sumber FP 3R.

Nonton Bareng dan Diskusi Film Kantata Takwa


Ikuti nonton bareng sekaligus diskusi film Kantata Takwa bersama cast dan crew dari Kantata Takwa di CNNIndonesia.com pada Jum'at, 11 September 2015 pukul 13.30WIB

LIVE STREAMING dari CNNIndonesia.com

Sebelum mengikuti acara tersebut, sebaiknya baca juga tulisan - tulisan dibawah ini :

1. Sejarah lahirnya KANTATA
2. Kantata Takwa : Ketika Iwan Fals Masih Mirip Che Guevara


Sumber : CNN Indonesia

Iwan Fals Gelar Konser Amal di Jepang

KONSER AMAL UNTUK KEMANUSIAN MENYAPA JEPANG BERSAMA IWAN FALS


Konser Amal Iwan Fals


Ikuti Charity Concert “Symphoni For Humanity”
Sabtu 4 April 2015

Dalam Symphony for Humanity itu Iwan Fals sang legendaris akan berkolaborasi dengan Kikan dan Bondan Prakoso.
Konser Amal Iwan Fals ini akan dilaksanakan di Nagoya Pkl 6:00 PM to 10:00 PM (JST)  waktu setempat.
Bersatulah.. Indonesia.. !!!

Konser Iwan Fals di Jepang

Acara ini diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.

Pemesanan Tiket Via Online melalui halaman ini.

Kantata Takwa : Ketika Iwan Fals Masih Mirip Che Guevara 2

Iwan Fals - Kantata Takwa
Iwan Fals - Kantata Takwa

Baca dulu Kantata Takwa : Ketika Iwan Fals Masih Mirip Che Guevara 1 disini

Masihkah relevan?

Asumsi yang digunakan sebagai landasan untuk membangun tema Kantata adalah model perlawanan terhadap kekuasaan Orde Baru dekade 1990-an. Pada dekade itu, konsolidasi ideologi Orde Baru sudah rampung dan kekuasaan negara dioperasikan hingga ke mana-mana. Operasi itu berasal dari sumber tunggal yang bernama Soeharto. Orientasi kekuasaan adalah Soeharto, karena sudah tak ada lagi lawan politik yang relatif sejajar dengannya dengan kekalahan penentang-penentang seangkatannya (atau yang sedikit di bawahnya) dan semua yang berhasil mendekati pusat kekuasaan adalah yang paling dekat secara ideologis dengannya. Mesin penggerak birokrasi dan kemasyarakatan juga berpusar pada orientasi serupa, sesudah negara mengalami korporatisasi seperti yang biasa terjadi pada negara-negara fasis. Maka kekuasaan Soeharto menjadi pemegang kekuasaan yang omnipresent karena seluruh operasi kekuasaan berorientasi kepadanya.

Kantata Takwa bicara dengan sebuah asumsi semacam itu. Mesin operasi kekuasaan menjangkau bahkan hingga ke tempat-tempat yang musykil seperti mimpi manusia. Maka mencatat mimpi pun menjadi sangat penting demi melawan kekuasaan yang semengerikan itu (sebelum bermimpi dilarang, ungkapan yang akrab pada dekade itu). Lihat misalnya bayangan manusia bertopeng gas yang menembaki orang di hutan-hutan atau pun ketika ketika Iwan Fals bermimpi giginya dicabuti oleh tentara agar ia tak bisa bernyanyi lagi. Apatah lagi pengadilan politik terhadap estetika seperti yang dialami oleh Si Burung Merak, Rendra. Pengadilan sebagai lembaga yang seharusnya suci dipenuhi oleh kemunafikan. Tampak sekali film ini menunjukkan gesture jijik terhadap lembaga pengadilan.

Tapi masihkah kekuasaan serbamaha yang tunggal macam tuhan itu beroperasi dengan cara seperti yang dialami dan dibaca oleh seniman dekade lalu ini? Inilah pertanyaan yang mengguyahkan gagasan dasar film ini ketika ia lahir sebagai produk tahun 2008. Indonesia pascareformasi justru ditandai dengan fragmentasi luar biasa dalam berbagai usaha meraih dan mempertahankan kekuasaan. Operasinya dalam kehidupan sosial budaya juga demikian beragam dengan agenda yang tak tampak beraturan. Perlawanan ideologi dan politik dalam arena kekuasaan yang pernah menjadi begitu penting, mungkin kini kalah penting dibandingkan dengan perjuangan untuk menampilkan sebuah ideologi pinggiran dalam sebuah film mainstream –yang kemudian menghasilkan pembicaraan publik mengenai substansinya.

Agenda politik dalam kesenian mungkin kini lebih cair dan tak semata melawan atau tunduk pada penyelewengan kekuasaan. Perjuangan politik mungkin kini agak tak disadari oleh para seniman –sekalipun aneh rasanya, ada seniman yang tak sadar akan implikasi politis karya mereka sendiri. Artikulasi juga sudah berubah seiring agenda untuk mengelak dari jebakan-jebakan pengulangan bentuk. Arena pertarungan juga sudah tak lagi pada tingkat pembentukan wacana dan narasi besar yang akan menghela seluruh gerbong bernama negara bangsa, tetapi menghadirkan cerita-cerita kecil guna melakukan semacam gerilya budaya yang secara tiba-tiba bisa menyeruak dalam pembicaraan publik yang serius, atau malah jadi kebijakan.

Maka ketika Kantata Takwa meletakkan asumsi adanya satu despot yang omnipresent dan beroperasi dari sumber yang tunggal, ia terasa menjadi sebuah artefak sejarah politik. Ia hanya mudah dikenali sebagai sebuah perlawanan terhadap model kekuasaan Soeharto dan sulit diacu pada model persoalan kekuasaan sekarang ini. Soalnya sesederhana bahwa panggung sudah berubah dan pentas yang dimainkan adalah lakon lama.

Demikian pula halnya dengan ungkapan jilbab sebagai bentuk perlawanan. Jilbab saat ini sudah bertransformasi, tak lagi mewakili identitas ketakwaan seperti yang ingin disampaikan oleh film ini. Jilbab, bahkan di beberapa tempat, kini menjadi representasi dari represi ketika sekolah-sekolah mewajibkan para pelajar perempuan berjilbab, bahkan termasuk mereka yang beragama non-Islam. Maka ungkapan-ungkapan perlawanan simbolis yang diajukan oleh Kantata Takwa sesungguhnya memang tertinggal di dekade 1990-an, Indonesia sebelum reformasi.

Ungkapan

Apakah strategi estetika Kantata masih bisa bekerja dalam panggung yang sudah berubah ini? Sebagai sebuah karya eksperimental, Kantata cukup menjanjikan. Seperti dikatakan di atas, film ini justru menghadirkan inkoherensi dalam kosa gambar dan cara ungkap.

Dalam film model ini, sebenarnya penonton diminta untuk membuat rambu-rambu personalnya sendiri. Dengan demikian ia akan bisa mengacu kepada pengalaman-pengalaman subjektif penonton. Maka terciptalah sebuah pemaknaan arbitrer pada karya ini. Dengan model pembacaan subjektif seperti ini, diharapkan penonton memberi makna baru sama sekali yang bahkan berlainan dengan niatan para kreator.

Namun sayangnya Kantata Takwa tidak diniatkan untuk menjadi karya seperti itu (sekalipun mungkin seharusnya dibaca begitu). Seperti sudah dikatakan di atas, tema film ini koheren sekali. Acuan simbol Kantata Takwa kelewat jelas, bahkan vulgar. Film ini menggunakan estetika puisi pamflet Rendra dan teriakan lagu jalanan Iwan Fals yang terasa ”marah” di awal dekade 1990-an, bukan Iwan Fals yang penuh canda seperti di awal masa karirnya. Kemarahan dan munculnya gesture jijik sesekali dalam film ini serasa tak memberi ruang cukup buat penonton.

Namun untunglah sutradara film ini cukup jeli menangkap figur Iwan Fals. Ruang lebih luas diberikan sesekali oleh figur ini. Perhatikan adegan diskusi mengenai rencana pembentukan grup musik Kantata Takwa. Dalam footage diskusi yang singkat itu, Iwan menyatakan keengganannya jika kelompok ini ”berdakwah” dalam pengertian yang sempit. Iwan mungkin marah pada keadaan, tapi ia tak ingin menyatakan bahwa kemarahannya itulah satu-satunya yang sah dengan mendakwahkannya; berbeda sekali dengan sikap Rendra (dan film ini secara keseluruhan) yang bahkan menghakimi balik penghakiman terhadapnya.

Demikian pula percakapan Iwan dengan anak-anak di tepi kali kecil. Iwan memperlihatkan sikap seorang seniman rendah hati yang berposisi sederajat dengan anak-anak yang mandi telanjang di kali itu. Ia bernyanyi bersama dan melawan kesewenang-wenangan (masa itu) dengan riang dan tetap bersuara tegas. Maka transformasi teriakan ”Bento!” dari anak-anak itu menjadi teriakan massa di Stadion Utama Senayan bagaikan melihat transformasi kekecewaan yang tulus para mahasiswa di tahun 1998 yang berubah menjadi kekuatan massa untuk menjatuhkan Soeharto.

Pada titik inilah inkoherensi cara ungkap film ini jadi cukup memberi keragaman dan ruang. Jika tidak, simbolisme yang vulgar, tema yang so last decade dan kemarahan dan gesture kejijikan akan membuat film ini jadi semacam rejim estetika yang memaksa penonton dengan klaim kebenarannya. Padahal secara umum saja, Kantata Takwa dengan segala ketidakakraban kekisahannya sudah melakukan seleksi awal yang ketat terhadap publik.

Klise

Sudah pasti KantataTakwa bukan produk populer. Namun secara sinematis, ia akan memberikan pertanyaan terhadap ungkapan estetika para pembuat film Indonesia masa kini. Kapankah sineas Indonesia bisa mengungkapkan apa saja yang diinginkannya, hingga bahkan nyaris mencapai taraf nonsens (Gotot mengakatan hal ini langsung pada saya: film ini sempat terendam banjir tapi gak papa, jadinya gambarnya malah asyik...) tanpa adanya halangan sama sekali?

Baiklah, di balik film ini ada uang taipan minyak yang nyaris tak terbatas ketika itu (bayangkan: 30 kamera!) tapi bukankah sumber dana untuk karya yang bebas tak pernah dibatas-batasi harus berasal dari kantong sendiri? Yang justru menarik ditanyakan adalah: akan seperti apa jadinya film ini seandainya Setiawan Djody ikut serta dalam penyelesaiannya.

Mungkin film ini tak akan banyak ditonton kecuali di lingkaran festival. Tak sepadan antara investasi yang pernah dibuatnya dengan capaian artistik, apalagi komersialnya; bahkan tak sepadan pula dengan pembicaraan tentangnya yang rasanya sepi-sepi saja. Para wartawan film pun bahkan tak tahu bahwa film ini akhirnya selesai dan ditayangkan perdana di Singapura.

Namun Kantata tetap mengingatkan bahwa seniman seperti Iwan Fals pernah nyaris se-revolusioner Che Guevara. ”Kepahlawanan” mereka sekarang ini mungkin lebih menarik jadi gimmick untuk menjual majalah atau menjadi komoditi sodoran ironi dan lelucon political-incorrect-ness. Kantata kini tetap mengajukan semacam perayaan kecil, bernama kebebasan seniman menyampaikan estetika yang mereka percaya. Klise memang. Tapi ketika para sineas sedang kasip berombongan untuk menjadi konformis dan konformitas sedang dipuja-puji, klise semacam ini, toh, rasanya relevan. Sebuah klise, karena terlalu pahamnya kita akan hal itu, memang kerap kita lupakan.***

Judul Film: Kantata Takwa; Sutradara: Eros Djarot dan Gotot Prakosa; Supervisi: Slamet Rahardjo Djarot; Cast: Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Clara Shinta, Setiawan Djody, Jocky Suryoprayogo dan Bengkel Teater Rendra. 

Sumber : gemarnonton

Kabinet Kutil Iwan Fals

Kabinet Kutil - Iwan Fals. Kabinet baru sudah diumumkan oleh Presiden Terpilih kemarin (Minggu, 26 Oktober 2014). Ngomong-ngomong soal kabinet, jadi ingat sama salah satu lagu Iwan Fals (Lagu Iwan Fals yang tidak bererdar - dibawakan di panggung UGM, Mei 1998). 

Kabinet Kutil
Kabinet Kutil

Disini, kami bukan untuk membahas Kabinet baru ataupun pro kontra terkait kabinet baru tersebut. Tetapi lebih ke Lirik Lagu Kabinet Kutil karya Iwan Fals.

Simak Lirik Lagu Kabinet Kutil dibawah ini :

Kabinet Kutil - Iwan Fals

Sibuk bikin kabinet
Rakyat lagi kegencet
Ekonomi kepepet
Terpaksa jadi jambret

Maklum susah, Bung !
Daripada ngelamun
Maklum pusing, Bung !
Sidang di dapur umum

Wakil rakyat bahenol
Perutnya ngejendol
Pintar-pintar bikin dogol
Lagi hobi ngebanyol

Si bos Marsinem
Ngentitnya pilih kasih
Ngerokok dulu ah
Baru ngebanyol lagi

Bikin feeling kabinet
Komisi jangan ngaret
Isinya kecil-kecil

Hampir sebesar kutil
Kutil, kutil, kutil
Hidup kutil !

yang mau download lagu diatas, klik disini !

Bagaimana menurut kalian tentang lirik lagu diatas?
Semoga, Indonesia bisa lebih baik. amin.

Pasti kuangkat engkau, Menjadi manusia setengah dewa.

Konser Iwan Fals Nyanyian Raya Diundur

Konser Nyanyian Raya
Konser Nyanyian Raya

Konser Nyanyian Raya Diundur. Konser Iwan Fals berjudul “Nyanyian Raya” akhirnya digeser ke tahun depan setelah semula direncanakan dihelat pada November tahun ini.

Dalam siaran pers yang diterima PortalKBR, konser ini akhirnya digeser dengan alasan ‘demi kesuksesan acara’. 

Dalam beberapa kesempatan di Twitter, Iwan Fals beberapa kali menyebutkan rencana soal konser “Nyanyian Raya” – salah satunya adalah menghadirkan 4 juta penonton untuk bersama-sama memecahkan rekor dan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” versi tiga stanza. 

Konser yang bekerja sama dengan NET TV dan Green Radio ini dirancang sebagai konser yang menggebrak dan menghibur banyak orang. “Karena itu, ini akan dijadikan acara spesial di tahun 2015 dengan tajuk “NET Nyanyian Raya”,” kata Wishnutama, CEO NET. Televisi Masa Kini dalam siaran persnya. 

Sementara itu sang legenda Iwan Fals mengaku ingin mengulang kesuksesan rangkaian konser “Suara untuk Negeri” yang berlangsung pada tahun ini. 

“Merupakan sebuah kesuksesan dan kebanggan tersendiri bagi saya untuk dapat menyuguhkan program yang inspiratif bagi masyarakat Indonesia,” kata Iwan Fals dalam siaran pers. 

Konsep konser “Nyanyian Raya” masih sama seperti semula yaitu menjalin silaturahmi, menyanyikan lagu “Indonesia Raya” bersama, mengangkat nilai-nilai tradisi sekaligus menjaga keseimbangan alam dengan menjadi cerdas lingkunga, melalui kegiatan penanaman dan peduli sampah. 

Khusus soal sampah, sehari setelah acara Syukuran Rakyat di Monas, Iwan Fals mencuit,”Diprediksi sampah pesta kemarin 100 ton, gimana Nyanyian Raya ya waduuh”.

Soal tanggal pasti perhelatan akbar konser “Nyanyian Raya” berikut musisi pendukungnya akan dikabarkan lewat jumpa pers selanjutnya di Desember 2014.

sumber : KBR

Nyanyian Raya - Kaos Nyanyian Raya


"Sebentar lagi kita akan menyaksikan

KONSER NYANYIAN RAYA". 
Sudahkan Anda memiliki 

KAOS NYANYIAN RAYA...?

"kami menyediakan "KAOS NYANYIAN RAYA" khusus buat Anda"

Kaos Nyanyian Raya
Kaos Nyanyian Raya

Kaos Nyanyian Raya
Kaos Nyanyian Raya

detail ukuran kaos nyanyian raya
Detail ukuran Kaos Nyanyian Raya

Kaos Nyanyian Raya 

 Kaos Nyanyian Raya


twitter : @dwistroi
BB : 7F5B6F68

Pesan Iwan Fals 18 Tahun Setelah Jurnalis Udin dibunuh

Wartawan Udin Dibunuh Karena Berita
Wartawan Udin Dibunuh Karena Berita

Delapan belas tahun yang lalu, tepatnya 16 Agustus 1996, jurnalis pemberani Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin menghembuskan napas terakhir setelah tiga hari sebelumnya dianiaya sejumlah orang tak dikenal di depan rumah kontrakannya di Dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis Kilometer 13 Yogyakarta. Namun hingga kini, pelaku dan juga otak penganiayaan yang mengakibatkan Udin meninggal dunia belum terungkap.

Iwan Fals turut mendukung penuntasan kasus pembunuhan jurnalis harian Bernas,  Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin, 18 tahun yang lalu. Iwan Fals meminta pembunuhnya ditangkap, diadili dan dihukum.

Saya Iwan Fals. Bagi saya, matinya wartawan bukan matinya kebenaran. Usut tuntas kasus pembunuhan wartawan Udin! Tangkap, adili, dan hukum pelakunya. Lindungi kebebasan pers dan pekerja pers," kata Iwan Fals dalam pesan suara yang dikirim ke Aliansi Jurnalis Independen, Jumat 16 Agustus 2013 lalu ini.

Audio Suara Iwan Fals Usut Tuntas Kasus Pembunuhan Udin :


Iwan Fals dikenal karena lagu-lagu kritik sosialnya. Terkait kematian Udin, Iwan pernah menuliskan lagu berjudul "Lagu Buat Penyaksi" yang sebagian liriknya bercerita mengenai kematian wartawan akibat berita yang ditulisnya.

Semoga, kasus ini bisa lekas terpecahkan.

Lagu Buat Penyaksi :


sumber : tribunjogja | viva news | 
foto : viva news | kompasiana

Lagu Iwan Fals PALESTINA

 



Lagu Iwan Fals - Palestina. Menyaksikan penderitaan yang dialami oleh saudara kita yang berada di Palestina membuat musisi senior Iwan Fals prihatin, dan bang Iwan Fals pun menyiptakan lagu tentang Palestina.

Dibawah ini adalah screenshot dari celoteh bang Iwan Fals melalui akun twitternya yang ditulis pada tanggal 13 Jul 2014 lalu.

Lagu Iwan Fals Palestina
Lirik Lagu Iwan Fals Palestina

Setelah gambar tersebut diunggah, kita para fans nya hanya bisa menebak saja. Apakah coretan diatas akan dijadikan lagu atau hanya sekedar pengisi waktu luang bang Iwan saja.

Ternyata, tanggal

Lagu Iwan Fals Palestina
Lagu Iwan Fals Palestina

Sekian dulu info dari kami, mudah-mudahan bermanfaat.

Selfie Competition Bergaya Mirip Iwan Fals

Anda suka sama bang Iwan Fals ?
Anda ngefans banget sama Iwan Fals ?

SELFIE COMPETITION MIRIP IWAN FALS
SELFIE COMPETITION MIRIP IWAN FALS

kalau jawabannya Iya,

sobat semua sudah pernah foto dengan gaya mirip Iwan Fals belom nih?
ini ada kuis "Selfie Competition Bergaya Mirip Iwan Fals " , lumayan lho hadiah total sampai 3 juta.

mau ?

Waktu terbatas.

bagi yang berminat buruan langsung cek TKP disini.

Download Film Kantata Takwa


Film Kantata Takwa
Kantata Takwa merupakan film dokumenter musikal Indonesia yang dirilis pada tahun 2008 arahan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa yang dibuat berdasarkan konser akbar proyek seni Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tahun 1991. Film ini mengalami banyak kesulitan dalam pembuatannya karena sarat dengan tema sosial politik dan kritikannya yang sangat tajam pada sistem pemerintahan Orde Baru Indonesia yang represif saat itu, sehingga pembuatannya memakan waktu 18 tahun hingga dirilis.

Film ini banyak dinantikan oleh banyak orang, khususnya kawan-kawan FALSMANIA. Film yang menceritakan potret kehidupan di Era orde baru,dari sang penulis cerita W.R RENDRA
selebihnya simak sendiri aja filmnya.

Lansung saja, selamat menikmati Film Kantata Takwa .

Jangan lupa, baca juga Kantata Takwa : Ketika Iwan Fals Masih Mirip Che Guevara   disini.


Kantata takwa file 3gp

1. Durasi : 20.07
    ukuran file : 32.5Mb
    link download  : Part 1
2. Durasi : 17.06
    ukuran file : 27.6Mb
    link download : Part 2
3. Durasi : 17.40
    ukuran file : 28.6Mb
    link download : Part 3
4. Durasi : 14.38
   ukuran file : 23.7Mb
   link download : Part 4


Kantata takwa File mp4

1. Durasi : 20.07
    ukuran file : 46.3Mb
    link download : Part 1
2. Durasi : 17.06
   ukuran file : 45.8Mb
   link download : Part 2
3. Durasi : 17.40
   ukuran file : 42.1Mb
   link download : Part 3
4. Durasi : 14.38
   ukuran file : 36.5Mb
   link download : Part 4


★★ Cara Download ★★
-

1. Klik Link Download2. Seteleh terbuka halaman baru, tunggu 5 detik3. klik 'SKIP AD' dipojok kanan atas 


Terimakasih buat bro Erkham untuk uploadnya.

*harap informasikan jika ada link yang rusak ya bro.

www.CodeNirvana.in

Powered by Blogger.
Blog dwisTROi blog online sejak 2007 | Template By Code Nirvana