Featured

    Featured Posts

  • dimana kehidupan
  • disitulah jawaban

Kantata Takwa : Ketika Iwan Fals Masih Mirip Che Guevara 2

Iwan Fals - Kantata Takwa
Iwan Fals - Kantata Takwa

Baca dulu Kantata Takwa : Ketika Iwan Fals Masih Mirip Che Guevara 1 disini

Masihkah relevan?

Asumsi yang digunakan sebagai landasan untuk membangun tema Kantata adalah model perlawanan terhadap kekuasaan Orde Baru dekade 1990-an. Pada dekade itu, konsolidasi ideologi Orde Baru sudah rampung dan kekuasaan negara dioperasikan hingga ke mana-mana. Operasi itu berasal dari sumber tunggal yang bernama Soeharto. Orientasi kekuasaan adalah Soeharto, karena sudah tak ada lagi lawan politik yang relatif sejajar dengannya dengan kekalahan penentang-penentang seangkatannya (atau yang sedikit di bawahnya) dan semua yang berhasil mendekati pusat kekuasaan adalah yang paling dekat secara ideologis dengannya. Mesin penggerak birokrasi dan kemasyarakatan juga berpusar pada orientasi serupa, sesudah negara mengalami korporatisasi seperti yang biasa terjadi pada negara-negara fasis. Maka kekuasaan Soeharto menjadi pemegang kekuasaan yang omnipresent karena seluruh operasi kekuasaan berorientasi kepadanya.

Kantata Takwa bicara dengan sebuah asumsi semacam itu. Mesin operasi kekuasaan menjangkau bahkan hingga ke tempat-tempat yang musykil seperti mimpi manusia. Maka mencatat mimpi pun menjadi sangat penting demi melawan kekuasaan yang semengerikan itu (sebelum bermimpi dilarang, ungkapan yang akrab pada dekade itu). Lihat misalnya bayangan manusia bertopeng gas yang menembaki orang di hutan-hutan atau pun ketika ketika Iwan Fals bermimpi giginya dicabuti oleh tentara agar ia tak bisa bernyanyi lagi. Apatah lagi pengadilan politik terhadap estetika seperti yang dialami oleh Si Burung Merak, Rendra. Pengadilan sebagai lembaga yang seharusnya suci dipenuhi oleh kemunafikan. Tampak sekali film ini menunjukkan gesture jijik terhadap lembaga pengadilan.

Tapi masihkah kekuasaan serbamaha yang tunggal macam tuhan itu beroperasi dengan cara seperti yang dialami dan dibaca oleh seniman dekade lalu ini? Inilah pertanyaan yang mengguyahkan gagasan dasar film ini ketika ia lahir sebagai produk tahun 2008. Indonesia pascareformasi justru ditandai dengan fragmentasi luar biasa dalam berbagai usaha meraih dan mempertahankan kekuasaan. Operasinya dalam kehidupan sosial budaya juga demikian beragam dengan agenda yang tak tampak beraturan. Perlawanan ideologi dan politik dalam arena kekuasaan yang pernah menjadi begitu penting, mungkin kini kalah penting dibandingkan dengan perjuangan untuk menampilkan sebuah ideologi pinggiran dalam sebuah film mainstream –yang kemudian menghasilkan pembicaraan publik mengenai substansinya.

Agenda politik dalam kesenian mungkin kini lebih cair dan tak semata melawan atau tunduk pada penyelewengan kekuasaan. Perjuangan politik mungkin kini agak tak disadari oleh para seniman –sekalipun aneh rasanya, ada seniman yang tak sadar akan implikasi politis karya mereka sendiri. Artikulasi juga sudah berubah seiring agenda untuk mengelak dari jebakan-jebakan pengulangan bentuk. Arena pertarungan juga sudah tak lagi pada tingkat pembentukan wacana dan narasi besar yang akan menghela seluruh gerbong bernama negara bangsa, tetapi menghadirkan cerita-cerita kecil guna melakukan semacam gerilya budaya yang secara tiba-tiba bisa menyeruak dalam pembicaraan publik yang serius, atau malah jadi kebijakan.

Maka ketika Kantata Takwa meletakkan asumsi adanya satu despot yang omnipresent dan beroperasi dari sumber yang tunggal, ia terasa menjadi sebuah artefak sejarah politik. Ia hanya mudah dikenali sebagai sebuah perlawanan terhadap model kekuasaan Soeharto dan sulit diacu pada model persoalan kekuasaan sekarang ini. Soalnya sesederhana bahwa panggung sudah berubah dan pentas yang dimainkan adalah lakon lama.

Demikian pula halnya dengan ungkapan jilbab sebagai bentuk perlawanan. Jilbab saat ini sudah bertransformasi, tak lagi mewakili identitas ketakwaan seperti yang ingin disampaikan oleh film ini. Jilbab, bahkan di beberapa tempat, kini menjadi representasi dari represi ketika sekolah-sekolah mewajibkan para pelajar perempuan berjilbab, bahkan termasuk mereka yang beragama non-Islam. Maka ungkapan-ungkapan perlawanan simbolis yang diajukan oleh Kantata Takwa sesungguhnya memang tertinggal di dekade 1990-an, Indonesia sebelum reformasi.

Ungkapan

Apakah strategi estetika Kantata masih bisa bekerja dalam panggung yang sudah berubah ini? Sebagai sebuah karya eksperimental, Kantata cukup menjanjikan. Seperti dikatakan di atas, film ini justru menghadirkan inkoherensi dalam kosa gambar dan cara ungkap.

Dalam film model ini, sebenarnya penonton diminta untuk membuat rambu-rambu personalnya sendiri. Dengan demikian ia akan bisa mengacu kepada pengalaman-pengalaman subjektif penonton. Maka terciptalah sebuah pemaknaan arbitrer pada karya ini. Dengan model pembacaan subjektif seperti ini, diharapkan penonton memberi makna baru sama sekali yang bahkan berlainan dengan niatan para kreator.

Namun sayangnya Kantata Takwa tidak diniatkan untuk menjadi karya seperti itu (sekalipun mungkin seharusnya dibaca begitu). Seperti sudah dikatakan di atas, tema film ini koheren sekali. Acuan simbol Kantata Takwa kelewat jelas, bahkan vulgar. Film ini menggunakan estetika puisi pamflet Rendra dan teriakan lagu jalanan Iwan Fals yang terasa ”marah” di awal dekade 1990-an, bukan Iwan Fals yang penuh canda seperti di awal masa karirnya. Kemarahan dan munculnya gesture jijik sesekali dalam film ini serasa tak memberi ruang cukup buat penonton.

Namun untunglah sutradara film ini cukup jeli menangkap figur Iwan Fals. Ruang lebih luas diberikan sesekali oleh figur ini. Perhatikan adegan diskusi mengenai rencana pembentukan grup musik Kantata Takwa. Dalam footage diskusi yang singkat itu, Iwan menyatakan keengganannya jika kelompok ini ”berdakwah” dalam pengertian yang sempit. Iwan mungkin marah pada keadaan, tapi ia tak ingin menyatakan bahwa kemarahannya itulah satu-satunya yang sah dengan mendakwahkannya; berbeda sekali dengan sikap Rendra (dan film ini secara keseluruhan) yang bahkan menghakimi balik penghakiman terhadapnya.

Demikian pula percakapan Iwan dengan anak-anak di tepi kali kecil. Iwan memperlihatkan sikap seorang seniman rendah hati yang berposisi sederajat dengan anak-anak yang mandi telanjang di kali itu. Ia bernyanyi bersama dan melawan kesewenang-wenangan (masa itu) dengan riang dan tetap bersuara tegas. Maka transformasi teriakan ”Bento!” dari anak-anak itu menjadi teriakan massa di Stadion Utama Senayan bagaikan melihat transformasi kekecewaan yang tulus para mahasiswa di tahun 1998 yang berubah menjadi kekuatan massa untuk menjatuhkan Soeharto.

Pada titik inilah inkoherensi cara ungkap film ini jadi cukup memberi keragaman dan ruang. Jika tidak, simbolisme yang vulgar, tema yang so last decade dan kemarahan dan gesture kejijikan akan membuat film ini jadi semacam rejim estetika yang memaksa penonton dengan klaim kebenarannya. Padahal secara umum saja, Kantata Takwa dengan segala ketidakakraban kekisahannya sudah melakukan seleksi awal yang ketat terhadap publik.

Klise

Sudah pasti KantataTakwa bukan produk populer. Namun secara sinematis, ia akan memberikan pertanyaan terhadap ungkapan estetika para pembuat film Indonesia masa kini. Kapankah sineas Indonesia bisa mengungkapkan apa saja yang diinginkannya, hingga bahkan nyaris mencapai taraf nonsens (Gotot mengakatan hal ini langsung pada saya: film ini sempat terendam banjir tapi gak papa, jadinya gambarnya malah asyik...) tanpa adanya halangan sama sekali?

Baiklah, di balik film ini ada uang taipan minyak yang nyaris tak terbatas ketika itu (bayangkan: 30 kamera!) tapi bukankah sumber dana untuk karya yang bebas tak pernah dibatas-batasi harus berasal dari kantong sendiri? Yang justru menarik ditanyakan adalah: akan seperti apa jadinya film ini seandainya Setiawan Djody ikut serta dalam penyelesaiannya.

Mungkin film ini tak akan banyak ditonton kecuali di lingkaran festival. Tak sepadan antara investasi yang pernah dibuatnya dengan capaian artistik, apalagi komersialnya; bahkan tak sepadan pula dengan pembicaraan tentangnya yang rasanya sepi-sepi saja. Para wartawan film pun bahkan tak tahu bahwa film ini akhirnya selesai dan ditayangkan perdana di Singapura.

Namun Kantata tetap mengingatkan bahwa seniman seperti Iwan Fals pernah nyaris se-revolusioner Che Guevara. ”Kepahlawanan” mereka sekarang ini mungkin lebih menarik jadi gimmick untuk menjual majalah atau menjadi komoditi sodoran ironi dan lelucon political-incorrect-ness. Kantata kini tetap mengajukan semacam perayaan kecil, bernama kebebasan seniman menyampaikan estetika yang mereka percaya. Klise memang. Tapi ketika para sineas sedang kasip berombongan untuk menjadi konformis dan konformitas sedang dipuja-puji, klise semacam ini, toh, rasanya relevan. Sebuah klise, karena terlalu pahamnya kita akan hal itu, memang kerap kita lupakan.***

Judul Film: Kantata Takwa; Sutradara: Eros Djarot dan Gotot Prakosa; Supervisi: Slamet Rahardjo Djarot; Cast: Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Clara Shinta, Setiawan Djody, Jocky Suryoprayogo dan Bengkel Teater Rendra. 

Sumber : gemarnonton

Nyanyian Raya - Kaos Nyanyian Raya


"Sebentar lagi kita akan menyaksikan

KONSER NYANYIAN RAYA". 
Sudahkan Anda memiliki 

KAOS NYANYIAN RAYA...?

"kami menyediakan "KAOS NYANYIAN RAYA" khusus buat Anda"

Kaos Nyanyian Raya
Kaos Nyanyian Raya

Kaos Nyanyian Raya
Kaos Nyanyian Raya

detail ukuran kaos nyanyian raya
Detail ukuran Kaos Nyanyian Raya

Kaos Nyanyian Raya 

 Kaos Nyanyian Raya


twitter : @dwistroi
BB : 7F5B6F68

Pesan Iwan Fals 18 Tahun Setelah Jurnalis Udin dibunuh

Wartawan Udin Dibunuh Karena Berita
Wartawan Udin Dibunuh Karena Berita

Delapan belas tahun yang lalu, tepatnya 16 Agustus 1996, jurnalis pemberani Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin menghembuskan napas terakhir setelah tiga hari sebelumnya dianiaya sejumlah orang tak dikenal di depan rumah kontrakannya di Dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis Kilometer 13 Yogyakarta. Namun hingga kini, pelaku dan juga otak penganiayaan yang mengakibatkan Udin meninggal dunia belum terungkap.

Iwan Fals turut mendukung penuntasan kasus pembunuhan jurnalis harian Bernas,  Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin, 18 tahun yang lalu. Iwan Fals meminta pembunuhnya ditangkap, diadili dan dihukum.

Saya Iwan Fals. Bagi saya, matinya wartawan bukan matinya kebenaran. Usut tuntas kasus pembunuhan wartawan Udin! Tangkap, adili, dan hukum pelakunya. Lindungi kebebasan pers dan pekerja pers," kata Iwan Fals dalam pesan suara yang dikirim ke Aliansi Jurnalis Independen, Jumat 16 Agustus 2013 lalu ini.

Audio Suara Iwan Fals Usut Tuntas Kasus Pembunuhan Udin :


Iwan Fals dikenal karena lagu-lagu kritik sosialnya. Terkait kematian Udin, Iwan pernah menuliskan lagu berjudul "Lagu Buat Penyaksi" yang sebagian liriknya bercerita mengenai kematian wartawan akibat berita yang ditulisnya.

Semoga, kasus ini bisa lekas terpecahkan.

Lagu Buat Penyaksi :


sumber : tribunjogja | viva news | 
foto : viva news | kompasiana

Penggambaran Tragedi Bintaro dalam lagu Iwan Fals

Tragedi Bintaro dalam lagu Iwan Fals
Tragedi Bintaro - Iwan Fals
Cerita sedih selalu datang bertamu di negara yang kaya ini. Baik kaya alamnya, kaya orang , kaya politiknya, kaya koruptornya.

Kehidupan Rakyat kecil bagi Iwan Fals merupakan suatu keadaan yang sangat "menarik" untuk ditampilkan dalam lirik lagunya, sebagai salah satu bukti kepeduliannya terhadap nasib mereka. Dengan demikian, wajar apabila sebagian besar lirik lagu Iwan berbicara tentang nasib rakyat kecil. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa dalam lirik lagunya, rakyat kecil digambarkan sebagai kelompok tertindas, diasingkan, dan selalu menderita. Mereka memiliki cara dan gaya tersendiri untuk menunjukkan kebahagiaan dan usaha dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Satu hal yang menonjol dalam lirik lagu Iwan Fals tentang rakyat kecil dan kepedulian sosial adalah kepekaannya dalam menangkap suatu peristiwa untuk diabadikan dalam sebuah lagu.

Salah satunya adalah tragedi kecelakaan kereta api di daerah Bintaro yang menelan korban ratusan jiwa manusia, diabadikan lewat lirik lagu berjudul '1910'. Ungkapan dalam lirik lagu Iwan Fals dapat menjadi pelajaran dan bahan renungan kepada orang yang kebetulan tidak mengalami peristiwa tersebut. Salah satu yang menarik untuk dibicarakan adalah lirik lagu yang berjudul 1910, dimana lagu tersebut mengisyaratkan betapa mengerikannya tragedi masa silam tersebut.

Iwan Fals - 1910

Apa kabar kereta yang terkapar di senin pagi
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah
Air mata… air mata…

Belum usai peluit belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi catatan sejarah
Air mata… air mata…

Berdarahkan tuan yang duduk di belakang meja
Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa aku bosan
Lalu terangkat semua beban dipundak

Semudah itukah luka-luka terobati
Nusantara, tangismu terdengar lagi
Nusantara, derita bila terhenti

Bilakah… bilakah…
Sembilan belas oktober tanah Jakarta berwarna merah
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah
Air mata… air mata…

Oooh…
Nusantara langitmu saksi kelabu
Nusantara terdengar lagi tangismu
Ho.. ho… ho…

Nusantara kau simpan kisah kereta
Nusantara kabarkan marah sang duka

Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab luka sudah tak lagi panjang

Peristiwa ini merupakan kecelakaan kereta api di daerah Bintaro, yang menelan korban ratusan jiwa manusia. Kereta tersebut merupakan rangkaian kereta kelas ekonomi sehingga sebagian besar penumpang yang menjadi korban adalah masyarakat yang termasuk golongan menengah ke bawah. Apabila tidak mengamati isi lirik lagunya, angka '1910' yang dijadikan judul akan diartikan sebagai angka tahun. Padalah angka '1910' tersebut mengandung arti tanggal 19, bulan 10 atau bulan Oktober karena peristiwa kecelakaan kereta api yang dituangkan lewat lirik lagu ini terjadi pada tanggal 19 Oktober.

Dalam bait pertama, frase 'hancurkan mimpi bawa kisah air mata', mengandung arti bahwa peristiwa ini mengejutkan semua pihak. Apalagi peristiwa tersebut menelan korban jiwa yang jumlahnya sangat banyak sehingga sampai dikatakan dengan 'tanah Jakarta berwarna merah'.

Pada saat itu, berdasarkan penyelidikan pihak yang berwenang, ternyata kecelakaan tersebut diakibatkan oleh kesalahan dalam menentukan waktu pemberangkatan. Penuangan tragedi kecelakaan kereta api ini tidak lepas dari pengamatan Iwan Fals untuk menyampaikan kritik dengan mengatakan 'berdarahkah tuan yang duduk di belakang meja', ' atau cukup hanya ucapkan bela sungkawa', 'aku bosan'.

Secara simbolis Iwan Fals mengatakan bahwa tragedi kecelakaan ini seharusnya menjadi cermin bagi pihak yang berkompeten (perusahaan kereta api) untuk memperbaiki pelayanannya.

Seperti lirik lagu Iwan Fals lain yang mengisahkan tentang rakyat kecil, terlihat adanya usaha untuk menjalin hubungan secara emosional kepada pembaca/pendengar melalui kata 'aku' dan 'saudaraku'. Hal ini dapat memberikan rangsangan sehingga lirik lagu tersebut seolah-olah merupakan suara hati dan jeritan pembaca sendiri dalam merasakan penderitaan akibat peristiwa tersebut. Dengan demikian, lirik lagu ini dapat memberikan suatu peringatan dan pelajaran kepada manusia agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi pada masa-masa yang akan datang. amin.

Sebagian dari tulisan diatas diambil dari buku 'Fals, Nyanyian di Tengah Kegelapan' celoteh 4 halaman 71 - 71 dan 78 - 80.

Semoga ini menjadi pelajaran bagi semua elemen perkeretaan, Pemerintah dan kita semua.
Untuk membaca artikel tentang 'Tragedi Bintaro' lebih lengkap, silahkan buka spoiler dibawah ini.

Tragedi Bintaro :

Tragedi Bintaro adalah peristiwa tabrakan hebat dua buah kereta api di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, pada Senin pagi, 19 Oktober 1987 yang merupakan kecelakaan terdahsyat dan terburuk dalam sejarah perkereta-apian di Indonesia. Peristiwa ini juga menyita perhatian publik dunia.

19 Oktober 1987 di hari Senin pagi yang ramai, 26 tahun lalu.

Dua buah kereta api yakni KA255 jurusan Rangkasbitung – Jakarta dan KA 220 cepat jurusan Tanahabang – Merak bertabrakan di dekat stasiun Sudimara, Bintaro. Peristiwa itu terjadi persis pada jam sibuk orang berangkat kantor, sehingga jumlah korban juga besar sangat besar yakni 153 orang tewas dan 300 orang luka-luka. Peristiwa itu merupakan yang terburuk setelah peristiwa tabrakan kereta api tanggal 20 September ditahun yang lebih awal 1968, yang menewaskan 116 orang. Tabrakan pada tahun 1968 itu terjadi antara kereta api Bumel dengan kereta api cepat di Desa Ratujaya, Depok

Lokasi

Lokasi pada saat ini sat kecelakaan terjadi berada di antara Stasiun Pondok Ranji dan Pemakaman Tanah Kusir, sebelah Utara SMUN 86 Bintaro. Tempat kejadian perkara berada di dekat tikungan yang melengkung (kini jalan tol) Bintaro, tepatnya di lengkungan berpola huruf “S”. Berjarak kurang lebih 200 meter setelah palang pintu Pondok Betung atau ± 8 km sebelum Stasiun Sudimara. Koordinat 6°15’39.9791”S 106°45’39.96”E

Awal Mula Kesalahan
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 19 Oktober 1987. Saat itu, KA 225 Jurusan Rangkasbitung – Jakarta yang dipimpin oleh masinis Slamet Suradio, asistennya Soleh, dan seorang kondektur, Syafei berhenti di jalur 3 Stasiun Sudimara. Kereta yang ditarik oleh lokomotif BB30317 dalam keadaaan sarat penumpang, yaitu sekitar 700 penumpang didalamnya.

 

KA 225 tersebut bersilang dengan KA 220 Patas jurusan Tanah Abang – Merak yang dipimpin oleh masinis Amung Sunarya dengan asistennya Mujiono. Kereta yang ditarik oleh lokomotif BB30617 ini bermuatan kurang lebih 500 penumpang, dan berada di jalur 2 Stasiun Kebayoran Lama.

Tragedi Bintaro dalam lagu Iwan Fals

Agar tak bingung, dibawah ini adalaqh urutan stasiun sepanjang trek sebelum bencana tersebut terjadi. Pada urutan trek masa sekarang, ada tiga stasiun baru yang pada masa lalu belum ada. Jika stasiun diurut dari arah Serpong ke arah Kebayoran pada masa kini, maka:

Rangkas Bitung –> … Serpong – Rawa Buntu (stasiun baru) – Sudimara – Jurang Mangu (stasiun baru) – Pondok Ranji (stasiun baru) – lokasi tabrakanKebayoran … <– JakartaKota

Ringkasnya, posisi stasiun KA single trek pada masa lalu itu adalah:

Rangkas Bitung -> … SerpongSudimara - lokasi tabrakanKebayoran … <- b="">JakartaKota

Peristiwa bermula atas kesalahan kepala stasiun Serpong yang memberangkatkan KA 225 Ekonomi (Rangkasbitung-Jakarta) ke Stasiun Sudimara, tanpa mengecek kepenuhan jalur KA di Stasiun Sudimara. Dari sini sudah terlihat KESALAHAN PROSEDUR kepala stasiun Serpong, karena tidak adanya komunikasi dan kordinasi dari Kepala Stasiun Serpong kepada Kepala Stasiun Sudimara.

Sehingga ketika KRD no. KA 225 (Rangkas-Jakarta) itu diberangkatkan dari Serpong dan tiba di Stasiun Sudimara pada pukul 6:45 WIB, ternyata benar stasiun Sudimara yang hanya punya 3 jalur saat itu penuh dengan dua KA.

Maka Kepala Stasiun Sudimara pun lantas memerintahkan masinis KRD 225 dilansir masuk jalur 1 (jalur lurus/lacu), dengan posisi di Stasuin Sudimara:

  • Jalur 1: KA 225 (jalur lacu)
  • Jalur 2: KA Indocement hendak ke arah Jakarta juga
  • Jalur 3: KA barang tanpa lokomotif
Memang menurut jadwal, seharusnya keduanya akan bersilang di stasiun Sudimara ini, dimana kalau tepat waktu, KA 225 seharusnya datang pukul 06.40 dan menunggu KA Cepat Patas 220 yang akan lewat pada pukul 06.49 di Stasiun Sudimara. Tapi kenyataannya, KA 225 ini terlambat 5 menit ketika sampai di Sudimara.

Alhasil semua jalur kereta di stasiun Sudimara akan tertutup rapat dan kereta lain tak bisa lewat. Karena penuh, maka kegiatan persilangan juga menjadi suatu yang mustahil.

Tragedi Bintaro dalam lagu Iwan FalsKarena tak bisa, otomatis persilangan di Sudimara terpaksa dipindahkan lagi saja ke stasiun Kebayoran dengan menyuruh KA 225 jurusan Rangkas-Jakarta yang baru saja tiba dari Serpong dan kini ada di Sudimara dengan waktu yang terlambat itu, segera diberangkatkan ke stasiun Kebayoran.

Jadi pindah stasiun lagi untuk persilangan, yaitu ke stasiun Kebayoran. Namun karena kesalahan prosedur kali inilah, kemudian terjadi rentetan kesalahan prosedur yang akhirnya menyebabkan 139 orang tewas.

Sementara itu, ada kereta kedua KA 220 di stasiun Kebayoran dengan arah tujuan yang berlawanan, yaitu KA Patas yang tak berhenti (KA Cepat) bernomer KA 220 (Jakarta-Merak) yang arahnya berlawanan dengan KA 225 (Rangkas-Jakarta) dan akan diberangkatkan dari Sudimara dan masuk ke stasiun Kebayoran.

Kembali ke stasiun Sudimara yang jalur keretanya penuh, dimana KA 225 sedang berada dan tak mungkin dilakukan persilangan/berpapasan, maka kemudian diberangkatkanlah KA 225 dari stasiun Sudimara ke stasiun Kebayoran agar dapat bersilang/papasan di stasiun Kebayoran.

Semboyan keberangkatan pun ditiup oleh kepala stasiun Sudimara, lalu KA 225 yang ada dijalur 1 Sudimara dan penuh penumpang tersebut, berangkat menuju stasiun Kebayoran….

Kembali lagi kita ke stasiun Kebayoran , disaat yang sama kereta cepat (KA Patas Jakarta-Merak) baru datang dan tak ada prosedur memberhentian tunggu karena KA Cepat tidak berhenti lama, maka tak lama kemudian KA Patas 220 (Jakarta-Merak) juga langsung diberangkatkan dari Kebayoran ke stasiun Sudimara dimana pada saat yang sama KA 225 sedang jalan menuju stasiun Kebayoran dalam satu jalur rel!!

Anehnya, padahal sebelum dilakukan persilangan KA 225 (Rangkas-Jakarta) dari stasiun Sudimara (yang penuh) ke stasiun Kebayoran, sudah dilakukan kontak telepon oleh Kepala Stasiun Sudimara kepada Kepala Stasiun Kebayoran untuk meminta izin.

Pertanyaanya sekarang, mengapa kepala stasiun Kebayoran dengan “gila” telah melepas keberangkatan KA Patas 220 dari stasiun Kebayoran untuk berangkat ke stasiun Sudimara?

Rentetan Kesalahan Prosedur Yang Fatal
Mari kita ulangi kejadiannya lagi. Menurut peraturan, untuk memindahkan persilangan ke Kebayoran, PPKA harus meminta ijin dulu ke Kebayoran, dan setelah diijinkan, baru PPKA membuat surat PTP (Pemindahan Tempat Persilangan) ke masinis KA 225.

Tapi apa yang terjadi malah sebaliknya. PPKA malah membuat PTP dan memberikannya hanya ke masinis, setelah itu baru menelpon meminta ijin ke Kebayoran, waduhhh! Dan sangat disayangkan, oleh PPKA Kebayoran waktu itu malah menjawab “Gampang, nanti diatur!”

Namun sesaat setelah itu, terjadi pula pergantian petugas PPKA Kebayoran. Padahal PPKA pengganti ini telah diberitahu oleh pendahulunya, bahwa di stasiun Sudimara ada dua KA yang belum masuk, termasuk KA 225. Pada saat itu, KA 220 sudah ada di Kebayoran dan siap berangkat.

Sementara itu di Sudimara, PPKA menyuruh juru langsir untuk melakukan tugasnya. Seharusnya pada saat itu, masinis harus memberikan laporan T-83 ke PPKA dan memberitahu rencana langsiran ke masinis KA 225.

Tapi entah kenapa, kereta KA 225 tiba-tiba langsung tancap gas dan melesat ke Kebayoran, tanpa ijin dari PPKA. Bahkan Kondekturnya juga tidak sempat naik!
Karena kewalahan, juru langsir langsung melapor ke PPKA.

Benar saja, selang 5 menit kemudian, Djamhari, petugas PPKA Stasiun Sudimara menerima telepon dari Umrihadi, Petugas PPKA stasiun Kebayoran Lama yang mengabarkan KA nomer 220 jurusan JakartaKota-Tanahabang-Merak sudah berangkat dan sedang melaju menuju Sudimara.

Seketika, dua petugas PPKA Sudimara, mengejar KA 225 yang baru diberangkatkan dari Sudimara ke Kebayoran dengan berlari mengejar kereta KA 225 tersebut sambil mengibarkan bendera merah. Mereka berdua terus menggoyangkan sinyal secara bergantian untuk menghentikan KA 225 tapi sia-sia.

Salah satu petugas PPKA Sudimara, Djamhari, tak patah arang, dia kejar lagi KA tersebut sambil mengibarkan bendera merah. Tapi inipun juga gagal, karena kecepatan KA di atas 50 km/jam maka tidak mampu dikejar. Hingga ada juga petugas yang naik motor mengejar KA225, namun lalu lintas yang padat saat jam berangkat kantor, maka usaha terakhir ini pun juga sia-sia.

Djamhari melihat dari jauh KA 225 terus melaju semakin kencang ke arah stasiun Kebayoran, pengejarannya pun tetap sia-sia. Seketika ia menangis karena kaget, syok dan lelah, Djamhari pun sempat pingsan ditempat, dan setelah sadar ke stasiun Sudimara, dia pingsan lagi.

Pada saat yang sama, KA Patas 220 yang telah diberangkatkan dari Kebayoran juga terus melaju berangkat dari Kebayoran menuju Sudimara untuk menjemput maut…

Perjalanan Menuju Maut
Ngeri rasanya jika dibayangkan, hanya satu jalur KA antara kedua stasiun tapi diisi oleh dua kereta yang berjalan pada arah yang berlawanan, dengan kecepatan penuh!

Dua kereta api yang sama-sama sarat dengan penumpang, namun seluruhnya tak mengetahui keadaan genting ini, akhirnya pada Senin pagi itu dua KA dengan kecepatan penuh melaju bersama dengan arah saling berlawanan yang pada saat itu hanya ada satu fasilitas jalur rel.

Ditambah, jalur rel di KM 17+252 terdapat tikungan zig-zag yang berbentuk “S” berjarak pendek, tapi dikelilingi pepohonan yang rimbun. Disini sudut pandang cukup terbatas, kedua masinis sama-sama tak dapat melihat dan kedua kereta bertemu secara tiba-tiba.

Dalam keadaan mendadak, tiba-tiba kereta dari arah berlawanan muncul, para masinisnya panik dan tidak sempat mengerem, dan jika dilakukan pun akan percuma, apa yang bisa dilakukan hanyalah meloncat keluar!

Akhirnya tabrakan tak dapat lagi dihindari, kedua KA “bertabrakan muka” di lokasi ± Km 18.75 .

Tragedi Bintaro dalam lagu Iwan Fals
Lokasi Tragedi Bintaro
Benturannya sedemikian dashyatnya, hingga gerbong pertama persis di belakang lokomotif di kedua kereta langsung menyelimuti masing-masing lokomotifnya.

Efek teleskopik ini menewaskan banyak penumpang, dan mereka yang bernasib malang langsung “tergiling” oleh putaran kipas radiator lokomotif.

Kedua kereta hancur, terguling dan ringsek. Kedua lokomotif, yaitu tipe 303 dengan seri BB 303-17 dan tipe 306 dengan seri BB 306-17 rusak berat. Jumlah korban jiwa 156 orang, dan ratusan penumpang lainnya luka-luka.

Karena itu tidak heran bahwa semua korban tewas berada di gerbong pertama dan di lokomotif. Sesaat setelah tabrakan, tempat itu dipenuhi oleh tangisan, erangan, serta bau darah dari dalam rongsokan kereta.

Jika prosedur dilakukan, maka KA 220 Patas (KA Cepat) yang akan melintas di stasiun Kebayoran secara normal, justru yang harus berhenti menunggu karena stasiun Sudimara penuh, KA 220 yang justru harus mengalah dan berhenti di stasiun Kebayoran untuk menunggu, hingga KA 225 sampai tiba di Kebayoran dan berpapasan di stasiun Kebayoran tersebut dengan KA 220.

Dampak Tragedi

Tragedi Bintaro dalam lagu Iwan Fals
Slamet tragedi bintaro
Akibat tragedi tersebut, masinis KA Patas 220 Slamet Suradio diganjar 5 tahun kurungan. Ia juga harus kehilangan pekerjaan, sehingga ia memilih pulang ke kampung halamannya, menjadi petani di Purworejo. Sebelumnya, ia telah berkarya selama 20 tahun di perusahaan KA.


Nasib yang serupa juga menimpa Adung Syafei, kondektur KA 225. Dia harus mendekam di penjara selama 2 tahun 6 bulan. Sedangkan Umrihadi (Pemimpin Perjalanan Kereta Api, PPKA, Stasiun Kebayoran Lama) dipenjara selama 10 bulan. Seorang mantan pengatur sinyal kereta api yang juga dinyatakan bersalah kini menapaki masa tua dengan penuh penantian.

Meskipun telah melalui banding, ia diputuskan tidak bersalah, hingga kini hanya bisa menunggu datangnya mukjizat untuk memperoleh pengakuan atas pengabdiannya selama lebih dari dua puluh tahun.

Badan ringkih itu kini acapkali nampak ada di stasiun Rangkas Bitung, sekedar untuk mengenang masa lalu dan tentu saja memperoleh belas kasihan kolega yang juga sama-sama pantas dikasihani.

Kejadian ini sempat ramai diberitakan di berbagai media massa, dan sangat mengejutkan masyarakat. Walaupun kecelakaan kereta api sudah sering terjadi di dekade 1980-an, tapi baru kali ini sampai separah ini.
Namun PJKA tidak tinggal diam. Beberapa operasi penertiban segera dilaksanakan. Hal ini perlu, mengingat KA di jalur sekitar Tanahabang memang dari dulu terkenal karena ketidak-tertibannya. Entah karena banyaknya penumpang di lokomotif maupun di atap, ataupun karena banyak penumpang yang tidak membayar dan suka menghajar kondektur.

Dan pada saat kejadian, lokomotif KA 225 memang dipenuhi penumpang gelap, sebagian bergelantungan di luar.

Selain itu beberapa peningkatan prasarana juga dilakukan untuk pencegahan. Seperti pemasangan radio di lokomotif (pada waktu kejadian, sedikit lokomotif di Indonesia yang punya radio).

Selain itu di antara stasiun Kebayoran dan Sudimara kemudian dibangun stasiun baru, Pondok Ranji lalu disusul stasiun Jurang Mangu. Sistem persinyalan di jalur ini kemudian dirubah dari mekanik menjadi elektrik.

Namun, efek terbesar dari kejadian ini adalah pembangunan double track besar-besaran untuk mencegah tabrakan muka terjadi lagi. Ironisnya, program ini baru terlaksana hampir dua dekade kemudian dan akhirnya jalur ganda ini selesai pada tahun 2007. Andai proyek jalur ganda ini selesai 20 tahun lebih awal.

Penyelidikan Menurut Saksi Mata dan Terdakwa

Dari hasil laporan terhadap beberapa petugas, di Stasiun Sudimara, terdapat 3 jalur yang saat itu sedang penuh dengan KA. Mengetahui hal tersebut, Djamhari selaku kepala PPKA ( Pengatur Perjalanan Kereta Api ) Stasiun Sudimara menghubungi Stasiun Kebayoran Lama untuk melakukan persilangan jalur di Stasiun Kebayoran Lama, namun Kepala PPKA Stasiun Kebayoran Lama, Umriyadi / Umrihadi menolaknya dan tetap meminta persilangan dilakukan di Stasiun Sudimara.

Mau tak mau, Djamhari kemudian mengosongkan jalur 2 (KA Indocement) untuk menampung KA 220 Patas yang telah berangkat dari Stasiun Kebayoran Lama setelah mendapat izin dari Kepala PPKA dengan memindahkan KA 225 ke jalur 1.

Djambhari kemudian memerintahkan Juru Langsir untuk memberi tahu masinis jika KA 225 hendak dipindah ke jalur 1. Juru Langsir kemudian memberi peringatan kepada masinis dan penumpang dengan mengibaskan Bendera Merah dan meniup peluit Semboyan 46 ( tanda kepada masinis dan penumpang jika kereta akan dilangsir )tanpa membatalkan perintah persilangan yang terlanjur diberikan kepada masinis KA 225.

Masinis KA 225 mendengar bunyi peluit Juru Langsir, namun ia tidak dapat memastikan apakah itu bunyi semboyan 46 atau semboyan 40 (tanda ketika petugas peron memberi sinyal hijau kepada kondektur KA, artinya jalur telah aman untuk dilalui).

Karena kondisi kereta yang penuh sesak, masinis pun menanyakan kepada penumpang yang berdiri di luar lokomotif, dan orang tersebut menjawab jika sudah waktunya kereta berangkat yaitu Semboyan 40 tanpa memastikan kembali.

Maka masinis membalas membunyikan Semboyan 41 (tanda yang dibunyikan oleh masinis dan kondektur sebagai respon atas dimengertinya semboyan 40 yang telah diisyaratkan oleh Kepala Stasiun), disusul kemudian dibunyikannya semboyan 35 (masinis membuyikan klakson sebagai tanda kereta akan berangkat).

Padahal sang Masinis tidak tahu jika semboyan 40 belum diberikan oleh Kepala PPKA, yang diberikan hanyalah Semboyan 46 (kereta harus langsir) dan sang masinis KA 225 langsung memberangkatkan kereta, hanya karena jawaban seseorang yang mengatakan jika kereta telah siap untuk berangkat.

Pada pukul 07.00 WIB, KA 225 berangkat tanpa ijin dari Kepala PPKA. Para petugas di Stasiun Sudimara dan Kepala PPKA langsung panik saat mengetahui KA 225 telah berangkat tanpa ijin, apalagi setelah Djamhari dihubungi oleh Kepala PPKA Stasiun Kebayoran Lama jika KA 220 Patas juga telah berangkat menuju Sudimara.

Juru Langsir kemudian langsung mengejar KA 225 dan berhasil naik gerbong paling belakang, namun sayangnya ia tidak dapat memberi tahu sang masinis karena penuhnya penumpang. Maka tragedi tak dapat dihindari. Begitulah versi dan alibi serta kesaksian dari para petugas di tempat kejadian tentang penyebab tragedi ini.

Kamus Kecil:
  • Semboyan 35: Ketika Masinis membunyikan Horn (Klakson) KA, sebagai Tanda KA akan diberangkatkan.
  • Semboyan 40: Ketika Petugas Peron memberikan Sinyal Hijau kepada Kondektur KA, tanda jalur telah aman untuk dilalui.
  • Semboyan 41: Ketika Kondektur membunyikan Peluit sebagai respon atas dimengertinya Semboyan 40 yang telah diberikan.
  • Semboyan 46: Ketika Juru Langsir meniup peluit dan mengibaskan Bendera Merah, sebagai tanda kepada masinis dan penumpang bahwa KA akan segera dilangsir.
Tragedi Bintaro dalam lagu Iwan Fals

Semoga semua korban dapat beristihahat dengan tenang, dan semoga tragedi ini tak akan terulang lagi, amin.

Sumber : wikipedia dan indocrop

Iwan Fals Tolak Kenaikan BBM

" Bbm naik tinggi, Susu tak terbeli Orang pintar tarik subsidi, Anak kami kurang gizi " (GRA - Iwan Fals)

Kutipan lirik diatas adalah salah satu kritikan Iwan Fals dalam upaya menolak kenaikan harga BBM. Seperti yang sudah kita ketahui, kenaikan BBM otomati berdampak pada kenaikan semua harga kebutuhan kita. Unjukrasa menentang kenaikan BBM terjadi dimana-mana, bahkan tak sedikit yang berujung dengan aksi perusakan fasilitas umum.

Iwan Fals sudah sejak dahulu melantangkan protes kenikan harga BBM melalui lagunya, tanpa turun kejalan, tanpa perusakan. Namun, lagu diatas ternyata sampai saat ini masih mengena ketika kita perdengarkan dan diputar disaat situasi seperti sekarang ini.

Baru-baru ini kawan-kawan dari Ormas Oi melakukan aksi dengan membentangkan spanduk "Menolak kenaikan harga BBM" . Dan dibawah ini gambar sudah kami edit dengan menambahkan foto Iwan Fals duduk dipojok sebagai ikon protes kenaikan harga BBM.

Iwan Fals Tolak Kenaikan BBM

Apapun nanti keputusan dari pemerintah, mudah-mudah menjadi yang terbaik baik kita semua.

" Harus ada yang dikerjakan, Agar kehidupan berjalan wajar "

Sugali, Sebuah Cerpenisasi Lagu Iwan Fals


Sugali Sebuah Cerpenisasi Lagu Iwan Fals Aku telah mengenalnya jauh sebelum seluruh negeri heboh menanggapi suara berita-berita yang tertulis dalam koran. Hampir sebagian besar media memang memuat cerita tentang dia, seorang lelaki yang sering keluar masuk bui dan jadi buronan polisi, Sugali. Dia adik bapakku, tapi justru tidak pernah bersedia kupanggil paman. Dia lebih suka kupanggil dengan nama saja, tanpa embel-embel lain.

“Sugali. Panggil Gali saja. Persetan segala formalitas keluarga!” katanya saat pertama kali bertemu. Umurku hampir 15 tahun waktu itu, dan dia dengan sangat mengejutkan hadir di prosesi pemakaman Bapak. Kejadian yang sangat mengherankan karena menurut cerita-cerita Bapak semasa hidup, adik satu-satunya itu seperti angin yang tak bisa diam di satu tempat hingga aku dan adik-adikku, keponakan-keponakannya, tak pernah mengenalnya. Sangat mengherankan jika dia bisa tiba-tiba muncul tepat di hari kematian Bapak kecuali kemungkinan bahwa sebenarnya Sugali dan Bapak selalu saling berhubungan. Entah bagaimana caranya, hanya mereka berdua yang tahu. Jikalau tidak demikian, hubungan batin mereka pastilah lebih erat hingga punya kemampuan kontak batin melampaui kewajaran. Kenyataan yang baru kuketahui jauh bertahun-tahun setelahnya, ternyata Bapak memang menyembunyikannya dari keluarga.

Kematian Bapak seakan memicu tombol di dalam hatinya untuk dengan penuh kesadaran mengambil alih tanggung jawab mengurus aku, Ibu dan kedua adikku. Tentu saja dia tidak menggantikan Bapak dalam arti sebenarnya, tapi dialah yang membuat perekonomian keluarga kami tetap stabil. Semua kebutuhan dia yang mencukupi walaupun Ibu tidak pernah benar-benar mengharapkannya. Dia jadi seperti sinterklas yang tiba-tiba saja jatuh dari langit tepat di atas tungku dapur keluarga kami. Rasa tanggung jawabnya tidak bisa dibilang murahan walaupun memang dia hampir tidak pernah bertandang karena alasan kesibukannya.

Hanya satu yang kusesali, semua yang kami dapatkan darinya ternyata hasil kerja haram. Baru aku ketahui justru ketika keluarga telah banyak berhutang budi kepadanya. Modal Ibu membuka toko kelontong, biaya sekolahku dan adik-adik, fitrah lebaran atau apapun yang pernah dia berikan pada kami … semua adalah hasil menggarong.

Garong. Sugali adalah seorang garong.

Sungguh, jika dia tidak datang pada suatu malam berhujan dengan luka tembak yang berdarah-darah pada paha kanannya, aku dan Ibu tidak akan pernah menyangka demikian.

“Kawanku mati semua. Untung nyawaku ada sembilan,” dia berkata saat Ibu dengan tangan gemetar membalut lukanya. Lalu dia menunjuk sesuatu yang terikat di pinggangnya sambil tertawa untuk sekedar meredakan ketegangan kami, “Jimat ini ternyata palsu!”

Aku menggigil karena marah dan kecewa. Ibu pun sama, tapi semua telah telanjur. Sugali hanya berkali-kali mengucapkan maaf sambil berjanji tidak akan membawa kami dalam kesulitan. Dia memohon agar Ibu mau meminjamkan sedikit uang padanya lalu dapat pergi malam itu juga. Dia memang tertangkap pada akhirnya, jauh di kota lain karena peluru yang masih tertinggal di paha kanannya ternyata membuatnya demam tinggi berhari-hari dan memperlambat gerak pelariannya.

Lewat beberapa tahun kemudian, namanya justru semakin berkibar di dunia hitam. Pengalaman keluar masuk bui, semakin membuatnya mempunyai banyak kawan yang kemudian di belakang hari digalangnya untuk membentuk kelompok kejahatan baru yang sangat berbahaya. Mereka komplotan yang tidak segan-segan membunuh untuk mendapatkan bayaran, bahkan menggarong menggunakan senjata api. Kerja mereka pun sangat rapi hingga polisi selalu kesulitan untuk memburu jejak dalam usaha menangkap mereka. Makin besarlah namanya. Makin ditakuti sepak terjangnya karena  kehebatan dan kesadisannya.

Muncul cerita-cerita tentangnya, ada yang mendekati benar, ada yang sangat mengada-ada. Seperti misalnya yang mengatakan bahwa Sugali adalah garong sakti, berani dan tidak bisa mati. Suara senapan hanya dianggap petasan. Tiada rasa ketakutan karena dia punya ilmu kebal senapan. Tak ada yang mampu melawannya, polisi paling jagoan dengan persenjataan lengkap sekalipun akan takluk.

Dengan cerita mengenai dirinya yang simpang-siur, Sugali toh tidak merasa terganggu. Semakin lupa daratan dan foya-foya saja kerjanya. Hampir setiap malam Sugali dan kawan-kawan garongnya itu bersukaria. Menyanyi dan menari di lokasi WTS kelas teri. Asyik lembur sampai pagi, joget sampai lecet dan mabuk-mabukan memuaskan kehausan mereka akan dosa. Mulut pamanku itu pastilah tiada henti tertawa dan melontarkan kata-kata kotor seperti penjahat murahan yang lancang menantang langit sembari tangannya genit kitik cewek binal paling buset yang cekikikan, sibuk menguras uang dari kantongnya. Begitulah, usai garong langsung hambur uang. Hasil kerja haram dipakai untuk yang haram. Peduli setan!
Ah, Sugali pamanku, ramai sudah orang bergunjing tentang dirinya yang tak juga hinggap rasa jemu. Ironis, atas pertolongannya aku mampu mapan dalam kehidupan, tapi dia justru tetap berkutat dengan jalan suram yang dipilihnya, sesuram hari depannya …

Aku tahu, di dalam hatinya yang mengeras, pastilah ada rasa was-was yang sayangnya tidak membuatnya wawas, karena semakin lama pergerakan komplotannya telah jadi semakin sempit akibat kegigihan polisi yang selalu memburu mereka. Tapi Sugali malahan semakin jumawa dan bermata beringas menantang, seakan-akan menunggu datang peluru yang panas, kelak di waktu hari nahas. Aku yakin itu, karena menurutku cerita tentang kekebalannya hanyalah omong kosong belaka. Aku pernah jadi saksi bahwa dia bukanlah manusia setengah dewa. Buktinya, pelor pernah bersarang di paha kanannya. Dia hanya manusia biasa, utuh penuh. Mulut orang saja yang membuatnya terkesan hebat.

Sampai pada suatu ketika, polisi yang mengetahui keberadaan Sugali bersama  komplotannya melakukan penyergapan secara mendadak dan rahasia. Tindakan yang tepat untuk meminimalisasi kemungkinan kebocoran informasi karena kenyataan bahwa mereka sangat sulit disergap. Sebagian hatiku sangat ingin dia tertangkap, tapi sebagian hatiku yang lain mengkhawatirkan nyawanya. Hanya ada dua pilihan yang sama-sama mengerikan, mati atau tertangkap. Tapi tentu saja dia tidak akan mau tertangkap, mempertahankan diri sampai mati adalah pilihannya, aku yakin itu.

Maka terjadilah tembak-menembak yang sengit di dini hari itu ketika komplotan raja tega Sugali tengah lengah berpesta merayakan keberhasilan mereka menggarong sebuah bank dan menewaskan seorang polisi yang tengah berjaga. Polisi berhasil mendesak komplotan itu dan mengatasi krisis dalam waktu 3 jam. Beberapa orang di pihak polisi terluka, tapi seluruh anggota komplotan tewas tertembak. Hanya Sugali yang tidak ditemukan. Orang-orang kemudian jadi bebas membuat cerita baru: kesaktian Sugali membuatnya lolos dari maut, tapi kini dia ciut lalu bersembunyi ketakutan.

Saat aku bertemu dengannya di tempat rahasia, beberapa hari setelah penggerebekan itu, senyumnya senyum orang kalah.

“Entah harus berterimakasih atau memakimu,” dia berkata.
“Yang penting kau selamat.”
“Jika boleh memilih, aku malah ingin mati bersama mereka.”
“Jangan. Aku, Ibu dan adik-adik masih banyak berhutang padamu. Jika kau mati, tak ada lagi kesempatan kami membalasnya.”
“Seharusnya aku ada di sana,” katanya menyesali diri. Lalu tangannya meraih pistol dari balik jaketnya, mengarahkannya ke kepalaku, “Jika menuruti nafsu, aku bisa membunuhmu sekarang.”
“Untuk apa?”
“Untuk kawan-kawanku.”
“Tidak perlu menyusahkan dirimu. Mereka toh sampah masyarakat.”
“Aku pun sampah.”
“Tapi kau adik bapakku. Tentu saja aku tidak mau melihatmu konyol.”
Rahangnya mengeras.
“Jadi maumu apa?”

“Sebaiknya serahkan dirimu. Bertahan dengan keadaanmu sekarang hanya sesuatu yang percuma karena ruang gerakmu semakin sempit. Ditambah imbalan tukar informasi tentang komplotan-komplotan sejenis yang jelas kau tahu, hukumanmu bisa lebih ringan. Setidaknya bukan hukuman mati.”
Sugali meludah, “Jika kau tidak memintaku untuk menemuimu di malam penyergapan itu, yang ternyata hanya akal-akalanmu, bukankah seharusnya aku berada bersama kawan-kawanku dan sudah tertangkap atau bahkan mati seperti mereka?”

“Tidak ada pilihan lagi. Hanya itu yang bisa aku lakukan.”

“Seharusnya kau biarkan aku mati saja bersama mereka. Sampai kapanpun aku tidak akan mau menyerahkan diri!”

Sudah kuduga kata-kata itu akan muncul. Di malam peyergapan itu, aku memang sengaja mengundangnya ke suatu tempat, hanya untuk menjauhkannya dari maut. Aku memang ingin melihatnya selamat dan tetap hidup, baik tertangkap atau tetap buron, walaupun itu mengingkari tugas polisi semacamku. Itu saja. Untuk menyelamatkannya seorang diri aku masih mampu, tapi tidak untuk seluruh anggota komplotannya.
“Jika begitu, lari dan sembunyilah! Biarkan saja orang-orang membicarakan ketakutanmu dalam persembunyian seperti seorang pengecut, asal bukan kematianmu!”

Pistolnya meletus di akhir kata-kataku. Bukan diarahkan padaku karena tangannya terangkat dan peluru melesat ke udara. Lalu seperti sebuah adegan melodrama yang membuatku menangis, tanpa mengatakan apapun lagi dia melontarkan pistolnya jauh-jauh dan pergi begitu saja.
Itulah Sugali, seorang lelaki yang menjadi buronan polisi nomer satu. Dia adalah pamanku, adalah adik bapakku. Seorang yang selama ini justru kulindungi dengan wewenangku karena mengingat budinya yang besar di masa lalu.

Entah kemana perginya, tidak pernah lagi aku mendengar namanya sejak pertemuan kami yang terakhir di malam itu.

O, bisik jangkrik di tengah malam tenggelam dalam suara letusan
Kata berita di mana-mana tentang Sugali tak tenang lagi dan lari sembunyi …

Cigugur, 26 Maret 2012
-          dikembangkan dari sebuah lagu karya Iwan Fals, “Sugali”.
-          Kata dan kalimat yang tercetak miring diambil dari syair lagu aslinya dengan sedikit perubahan di beberapa kata untuk menyesuaikan dengan konteks kalimat pada cerita.


Sugali : Oleh A K Basuki

Pendakian Massal Nasional Gunung Slamet VI

-

Asssalamualaikum Wr. Wb.
Salam Lestari

Dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Tegal ke 412 tahun 2013, Gabungan Pecinta Alam Slamet (Galas) bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Tegal mengadakan kegiatan Pendakian Massal Nasional Gunung Slamet ke VI, kegiatan diagendakan setiap dua tahun sekali, tujuannya untuk ikut serta dalam memperingati hari jadi kabupaten Tegal, mempererat tali silaturahmi antar pecinta alam, dan sebagai wahana promosi obyek wisata guci. Dari kegiatan pendakian massal ke 1 s.d 5, Alahamdulillah berjalan dengan lancar dan setiap tahun terjadi peningkatan jumlah peserta yang sangat signifikan. berdasarkan data peserta pendakian terdapat peserta dari berbagai kota/kabupaten di wilayah Indonesia seperti ; Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Nias, Kalimantan dan beberapa wilayah lainnya di Indonesia, bahkan terdapat peserta dari Luar negeri tercatat berasal sari Republik Ceko dan Jerman. Pada pendakian Massal ke 5 jumlah peserta mencapai 500 orang lebih, dan sambutan serta kesan dari para peserta juga sangat positif.

Setelah sukses dengan pendakian massal nasional I, II, III, IV, dan V tim GALAS (Gabungan Pecinta Alam Slamet) kembali akan mengadakan pendakian massal nasional ke-6
Maksud diadakannya acara ini adalah untuk memperingati HUT Kab. Tegal ke-407 tahun dan memperingati hari linkungan hidup serta untuk mempererat tali kekerabatan di antara sahabat – sahabat petualang alam bebas.

PELASANAAN : tanggal : 7 – 9 juni 2013
JALUR PENDAKIAN : start dari OW. Guci Kab. Tegal Jawa Tengah
TEKNIS PENDAFTARAN :

Peserta terbuka untuk pelajar,mahasiswa dan umum
Biaya pendaftaran sebesar Rp. 85.000,-
Pendaftaran bisa dilakukan secara langsung di bascamp GALAS yang terletak dikomplek perkantoran OW Guci
Peserta yang memiliki penyakit khusus (jantung, diabetes, asma, hipertensi,dll) dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu dan mempersiapkan obat – obatan pribadi.
Peserta membayar biaya pendaftaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku, paling lambat tanggal 20 mei 2013.
Untuk peserta yang berada di luar tegal bisa berkoordinasi dengan panitia tentang teknis pendaftaran di luar tegal.

FASILITAS :

T-shirt exclusive
Stiker
Medical chek
Asuransi
Tiket masuk OW Guci
Makan 2x
Home stay (penginapan)
Pemandian air panas guci
Door prize

PERLENGKAPAN WAJIB PESERTA :

Backpack min. 35 liter
Jaket (pakaian hangat)
Jaz hujan/ rain coat
Tenda/ dome
Senter/ lampu badai / alat penerangan lainnya
Sleeping bag (kantong tidur)
Logistic (makanan selama diperjalanan pendakian)
Obat – obatan pribadi
Perlengkapan masak
Sarung tangan
Kaos kaki secukupnya
Sepatu tracking (lebih dianjurkan)
Dan perlengkapan lainnya sesuai kebutuhan


KONFIRMASI PENDAFTARAN :

Peserta diaharap melakuakan konfirmasi sebelum tanggal 20 mei 2013, bagi yang melewati batas pendaftaran di harap menghubungi panitia, jika tidak ada konfirmasi dianggap batal.
Unutk peserta luar daerah yang kesulitan akses dengan KORWIL (kordinatror wilayah) / dikota yang tidak terdapat korwil bias mendaftar online dengan cara mentransfer uang pendaftaran melalui rekening BRI No.0068-01-018478-50-2 an. ARDIYANI WAHYUNINGRUM dan bukti / struk transfer jangan sampai hilang guna registrasi ulang.
(setelah mentransfer dimohon untuk konfirmasi kenomer 085729550882-Bembeng)

JADWAL ACARA / ITINERARY

Jumat 07 – 06 – 13
• 14.00 – 18.00 : daftar ulang, pembagian fasilitas, medical chek
• 20.00 – 22.00 :Technical meeting
• 22.00 – : istirahat
Sabtu 08 – 06 – 13
• 06.00 – 06.30 : senam bersama
• 06.30 – 07.30 : makan pagi (disediakan oleh panitia)
• 07.30 – 08.30 : upacara pembukaan dan pelepasan peserta pendakian
• 08.30 – 09.00 : start pendakian
• 09.00 – 17.00 : perjalanan menuju pos 5 /batas vegetasi / Base Camp terahir
• 17.00 – : istirahat
Minggu 09 – 06 – 13
• 02.30 – 03.00 : persiapan summit ke puncak slamet
• 03.00 – 05.00 : summit attack ke puncak slamet
• 05.00 – 08.00 :menikmati puncak gunung tertinggi di jawa tengah sekaligus terbesar di pulau jawa
• 08.00 – 09.00 : turun menuju pos 5
• 09.00 – 10.00 : istirahat
• 10.00 – 10.30 : packing untuk menuju OW Guci
• 10.30 – 14.00 : perjalanan menuju OW Guci
• 14.00 – 15.00 : sampai di OW Guci dilanjutkan makan siang (disediakan oleh panitia)
• 15.00 – 15.30 : upacara pembubaran
• 15.30 – : SAYONARA – SAMPAI JUMPA DI PETUALANGAN BERIKUTNYA

KETERANGAN LAIN – LAIN
1. Peserta diwajibkan melampirkan tanda pengenal (KTP/SIM /dsb) sebanyak 2 lembar
2. Jadwal acara bersifat tentatife dan sewaktu – waktu dapat berubah sesuai dengan kondisi lapangan (seperti kondisi alam yang tidak memungkinkan untuk didaki karena aktifitas vulkanik gunung yang sedang meningkat dan bisa menimbulkan resiko)
3. Bagi peserta yang ingin mengetehui informasi dan perkembangan lainnya silahkan hubungi
Fauzan : 085740007877, 081234529028
Amin : 085640646707
Benk2 : 085729550882

Kalender Iwan Fals 2013 Gratis



Tidak terasa kita sudah di penghujung tahun 2012 ini, yang isunya tahun di tahun 2012 akan terjadi kiamat. Alhamdulillah, itu hanya isu belaka. Seperti diawal tahun lalu, dwisTROi mencoba membuat kalender 2012 dengan design yang sangat sederhana (mudah-mudahan banyak yang suka).
Nah, kali ini dwisTROi ingin membuat kembali Kalender Iwan Fals 2013 dengan design yang masih sama (gapapa ya kawan-kawan). Hmmm... langsung saja deh, berikut dwisTROi tampilkan previewnya dibawah ini. Oia, ada dua design kalender untuk masing-masing gambarnya. Untuk download langsung saja klik download ya sob.

update : Kalender Iwan Fals 2016 klik disini !!!



Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan tanggal dan harinya. Silahkan informasikan kepada dwisTROi via @dwistroi jika ada kesalahan diatas.
Kami dari dwisTROi Groups mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2013, semoga ditahun 2013 rencana, tujuan dan cita-cita kita semua dapat terwujudkan. Amin.

BPK Oi Brebes #latihanqurban

Menyembelih hewan qurban pada hari Idul Adha adalah amal shalih yang paling utama, lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah.

Dari petikan kalimat diatas itulah, kami dari kawan-kawan Badan Pengurus Kota (BPK) Oi Brebes insyaALLah akan mengadakan #latihanqurban dengan tema "Tumbuhkan Pengorbanan dan Kepedulian Sosial Menuju Ridho Illahi" . Mudah-mudahan niat baik kawan-kawan dari Oi Brebes ini dapat terwujud dan dimudah-mudan mendapat balasan Oleh ALLah SWT amin.

Adapun untuk informasi lebih lengkap silahkan cek pamflet dibawah ini : (klik gambar untuk lebih jelasnya)


Demikian informasi dari dwisTROi tentang #latihanqurban , mudah-mudahan bermanfaat.

Ada baiknya sebelum memotong hewan kurban baca dulu Tips Merobohkan Hewan Kurban .

Apa Itu Tomcat

Lagi ramai-ramianya pada membicarakan tomcat. Sebanarnya apa sih tomcat itu?

Apa Itu Serangga Tomcat
Serangga Tomcat atau dikenal dengan sebutan lain Kumbang Rove atau lebih dikenali juga dengan nama daerah Semut Semai, Semut Kayap atau Charlie. Kumbang ini mempunyai ukuran kurang daripada 1 cm panjang.

Badannya berwarna kuning gelap di bagian atas, bawah abdomen dan kepala berwarna gelap. Bagian tengah abdomen yang berwarna hijau tua mempunyai sepasang sayap keras.

Biasanya, kumbang ini kelihatan merangkak di kawasan sekeliling dengan menyembunyikan sayapnya dan dalam sekali pandang ia lebih menyerupai semut.

Apabila diganggu kumbang ini akan menaikkan bahagian abdomen supaya kelihatan seperti kala jengking untuk menakuti musuh. Namun Tomcat dapat di basmi dengan menggunakan Pestisida Alami.

Hewan bernama ilmiah Paederus riparius ini membuat warga di sejumlah permukiman padat penduduk terserang gatal-gatal.

"Dia masuk jenis kumbang yang memakan hama padi," ujar peneliti serangga dari Institut Pertanian Bogor, Aunu Rauf, Selasa, 20 Maret 2012.


Cara penanganan serangan tomcat


Pederin yaitu lendir yang terdapat pada kulit tomcat yang bersifat toksik dan asam. Jika bersentuhan dengan kulit manusia akan menimbulkan reaksi iritasi beberapa jam kemudian. Gejala muncul dalam waktu 12 – 36 jam setelah bersentuhan dengan kumbang ini.

“Mula-mula berupa bercak kemerahan dan bisa berkembang lepuhan di atasnya, disertai rasa panas/perih. Iritasi ini akan berlangsung 7 hari sampai 3 minggu,” ujar dr. Susari pada Minggu (25/03/2012).

Ia menambahkan, setelah bersentuhan dengan tomcat dan terkena serangannya, pederin menyebar ke seluruh bagian kulit, bahkan bisa menimbulkan lesi kulit yang sama di tempat berbeda yang disebut kissing lesions. Biasanya di area lipatan paha atau lengan.

Bagaimana penanganannya? Dr. Susari menganjurkan untuk segera membasuh tangan dan kulit yang terkena dengan menggunakan air dan sabun. Kemudian segera mencari pertolongan ke dokter untuk terapi medisnya.

Ia menekankan untuk tidak mengolesi luka dengan berbagai macam minyak atau bedak karena akan memperparah proses iritasinya / inflamasinya, yang bisa menyebabkan infeksi sekunder. Penyembuhannya bisa meninggalkan bekas kehitaman pada kulit (Post inflammatory hyperpigmentation/PIH).

“Biasanya dokter akan memberikan obat yang mengandung kortikosteroid. Bisa berupa obat topical ataupun yang diminum, bergantung tingkat keparahannya. Jika perlu diberikan antibiotika,” ujarnya.


dari berbagai sumber.

Valentine for Palestine (14 Februari 2009)


Katamu dendam ada dimana-mana

Mungkin kamu bisa saja benar saudara

Ada perang di Timur Tengah, di Palestina

Bahkan juga di dalam jiwa kita

Tak pernah ada habisnya

Sangat menyiksa…!!!

Banyak orang sekarat meregang nyawa

Dimanakah hilangnya cinta?

Hanya ada perih yang tak terperi

Tergantikan oleh darah dan nyawa

Hasil dari pembantaian…sangat kejiii…!!!

Potret cinta ini buram hampir tak terlihat

Kekuatan akal, tangan, kaki dan seluruh tubuh

Diselimuti dendam sampai berkarat

Nafsu menguasai begitu kuat, jahat, laknat..!!!

Tapi aku yakin cinta lebih ada dimana-mana

Setiap tahun seluruh manusia,

Seluruh umat beragama

Masih percaya masih ada cinta

Hari ini adalah valentine

Di seluruh dunia…

Mengamini saling berbagi cinta

Tak perduli darimana asalnya

bagaimana sejarahnya

Yang jelas cinta tak kan ada yang menentangnya…??

Palestine kuberikan untukmu

Setangkai bunga dan coklat

Sebagai tanda aku cinta padamu

Dari seorang yang tak kau kenal atau mungkin sahabat?

Ini bukti cinta tetap ada…..

Ini bukti cinta menyatukan kita….

Ini bukti cinta menyatukan umat manusia di dunia


Puisi ini "Valentine for Palestine" masuk nominasi di karya kita iwanfals.co.id beberapa tahun lalu, karya Aditya Pratama.

Asal Usul Penamaan Iwan Fals menjadi Pitat Haeng

Pitat Haeng, sebuah nama yang mungkin asing ditelinga kita. Tapi tahukah anda, nama ini adalah nama samaran yang digunakan Iwan Fals.
Pada kesempatan kali ini, dwisTROi ingin mengulas asal usul penamaan Iwan Fals menjadi Pitat Haeng, tapi sebelumnya marilah sejenak kita mengulas tentang elpamas terlebih dahulu.

Sejarah Elpamas :

Nama Elpamas tadinya merupakan kependekan dari “Elektronik Payung Mas”, nama sebuah toko elektronik milik Anthony Depamas yang menyuplai peralatan band buat para personel Elpamas. Belakangan, kepanjangan nama Elpamas diplesetkan ke dalam bahasa Jawa, yaitu Elek-elek Pandaan Mas. Karena band ini memang berasal dari daerah Pandaan, Pasuruan (Jawa Timur).

Awal terbentuk, sekitar tahun 1983, Elpamas tidak langsung memainkan musik rock. Lewat panggung-panggung tingkat RT dan ‘bergerilya’ dari kampung ke kampung, Elpamas dikenal luas sebagai band yang mengusung musik dangdut.

Tapi kemudian, Elpamas tidak terlalu lama mengusung jenis musik ini. Tahun berikutnya, menjelang mengikuti festival rock yang digelar oleh Log Zhelebour mereka pun ganti haluan.


Elpamas mulai memperlihatkan talentanya sebagai grup rock yang layak diperhitungkan saat mereka berhasil merebut gelar Juara III di “Festival Rock Se-Indonesia” tahun 1984. Bahkan saat event tersebut digelar lagi pada tahun 1985 dan 1986, Elpamas yang waktu itu diperkuat oleh Dollah Gowi (vokal), Toto Tewel (gitar), Didiek Sucahyo (bas), Edi Daromi (kibor) dan Rastato mampu meraih predikat Juara I selama dua kali berturut-turut. Sementara Toto Tewel, juga mampu mengantongi gelar sebagai gitaris terbaik.

Karir Elpamas kemudian semakin terasah dengan seringnya mereka tampil di pentas-pentas musik besar, antara lain mendampingi God Bless pada “Tour Raksasa Gudang Garam”, tahun 1989.

Di dunia rekaman, nama Elpamas juga mampu mencatat prestasi yang cukup lumayan. Salah satu lagunya, yaitu Pak Tua menjadi tembang klasik mereka yang mungkin paling dikenal masyarakat. Tembang karya Pitat Haeng (nama samaran yang digunakan Iwan Fals) yang termuat di album Tato tersebut konon mampu mendongkrak penjualan albumnya hingga mencapai angka 5 keping. Sebuah jumlah yang menyedihkan pada masa itu. Itupun dibeli oleh orang tuanya masing-masing.

Lagu itu sendiri — yang bercerita tentang seorang penguasa yang sudah tua tapi belum mau pensiun — sempat dicekal, tidak boleh ditayangkan di TV. Pasalnya, liriknya dianggap telah menyinggung penguasa orde baru.

Gonta Ganti Vokalis
Elpamas sering sekali terjadi pergantian formasi sehingga mempengaruhi kestabilan grup. Sehingga baru enam album yang dihasilkan dalam waktu 15 tahun

Misalnya posisi vokalis. Elpamas sudah sembilan kali ganti vokalis. Di antaranya, ada nama Dollah Gowi, Baruna (sempat membentuk kelompok Legend Bee dan kini mengibarkan grup Jagad) dan Ecky Lamoh (ex-vokalis EdanE). Bahkan, Andy Liany sempat pula bergabung, meski tidak sempat masuk rekaman. Sementara itu, Doddy Keswara masuk formasi setelah disodorkan oleh Baruna.

Selain karena mereka memang kurang produktif mengeluarkan album rekaman, waktu Elpamas juga lebih banyak tersita untuk tampil di kafe-kafe. Belum lagi beberapa personelnya banyak terlibat proyek lain. Toto Tewel misalnya. Bersama Doddy Keswara, ia turut memperkuat grup Kantata, pimpinan Setiawan Djody dan sesekali mengisi gitar untuk beberapa penyanyi solo.

Dengan banyak bermunculan grup musik baru, justru memacu mereka untuk tetap berupaya mempertahankan eksistensi Elpamas. Salah satu jalan yang ditempuh ialah dengan menciptakan pasar musik di panggung. Mereka memilih memperbanyak bermain di kafe-kafe membawakan lagu dari grup legendaris tahun 70-an seperti Deep Purple, Led Zeppelin, Uriah Heep, Yes dan Kansas.

Setelah merilis Dongeng, Didik Sucahyo cabut dari Elpamas. Posisinya sempat digantikan oleh Edot, mantan basis Q-Red (grup Toto sebelum bergabung di Elpamas). Kini, posisi ini kemudian diisi oleh Harto. Sementara di jajaran vokal, Amiruz dan Ecky masuk menggantikan Doddy Keswara yang mengundurkan diri setelah pembuatan album Dongeng.

Amir Roez sendiri bukanlah nama baru di dunia musik Indonesia. Sebelum bergabung di Elpamas, vokalis asal Solo ini pernah tercatat sebagai vokalis grup Dimensi, band yang antara lain diperkuat oleh Yuke Sumeru dan Donny Suhendra.

Ia juga pernah ‘ngamen’ bersama Anto Hoed (basis Potret), Kadek Rahardika dan Lian Panggabean mengibarkan 2GT2. Bahkan, sebuah album solo berjudul Goyang Dunia pernah pula ia lahirkan. Di Elpamas, Amir mengaku sudah tidak asing dengan personelnya, terutama Toto Tewel. Ia sudah kenal Toto sejak keduanya terlibat penggarapan lagu soundtrack untuk film “Macan Kampus”.

April 2003, Elpamas merilis album 60km/jam dengan personel Toto Tewel, Tato, Edi Daromi, Harto, Amiroez dan vokalis Decky Sompotan.

Diskografi
* 1989 - Dinding-dinding Kota
* 1991 - Tato
* 1993 - Bos
* 1997 - Negeriku
* 2000 - Dongeng
* 2003 - 60km/jam

sumber : wikipedia


Pitat Haeng, sebuah nama yang mungkin asing ditelinga kita. Tapi tahukah anda, nama ini adalah nama samaran yang digunakan Iwan Fals. Nama ini dipakainya ketika menciptakan lagu yang cukup terkenal di era 90-an berjudul ‘Pak Tua’ untuk Elpamas sebuah grup band, dan pernah digunakan ketika membantu album ‘Bukan Debu Jalanan’ (1991) milik Sawung Jabo.

“Pitat Haeng itu bahasa slengnya (prokem) Jogja untuk Iwan Fals. Pitat itu Iwan, Haeng itu Fals. Dia pake nama itu karena nggak mau orang lain membeli album saya karena ada namanya. Dia punya pikiran yang baek”, kata Jabo. Iwan Fals suka membuat karya untuk orang lain dengan nama samaran. Dan kemungkinan masih ada beberapa nama yang belum pernah diketahui.

Bahasa Prokem :

Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitas-komunitas Indonesia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami penyimpangan/ pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang menetap di Jakarta.

Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, distribusi fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Masing-masing komunitas (daerah) memiliki rumusan sendiri-sendiri. Pada dasarnya bahasa ini untuk memberkan kode kepada lawan bicara (kalangan militer dan kepolisian juga menggunakan).

Contoh yang sangat mudah dikenali adalah dagadu yang artinya matamu. Perubahan kata ini menggunakan rumusan penggantian fonem, dimana huruf M diganti dengan huruf D, sedangkan huruf T diubah menjadi G. Sementara huruf vokal sama sekali tidak mengalami perubahan. Rumusan ini didasarkan pada susunan huruf pada aksara jawa yang dibalik dengan melompati satu baris untuk masing-masing huruf. Bahasa ini dapat kita jumpai di daerah Yogyakarta dan sekitarnya.
Sumber :
wikipedia


Dengan bahasa prokem ala Jogja itulah Iwan Fals mengubah namanya menjadi Pitat Haeng, dengan maksud agar lagu yang ia ciptakan untuk orang /grup musik lain laku bukan karena ketenaran namanya, melainkan karena ketenarang mereka sendiri. Inilah salah satu yang perlu kita contoh dari sosok Iwan Fals.

www.CodeNirvana.in

Powered by Blogger.
Blog dwisTROi blog online sejak 2007 | Template By Code Nirvana