Featured

    Featured Posts

  • dimana kehidupan
  • disitulah jawaban

Gerhana Matahari dalam Lirik Lagu Iwan Fals

Gerhana Matahari dalam lirik Lagu Iwan Fals

Secara umum, tema yang diusung lirik lagu Iwan Fal dapat digolongkan menjadi enam golongan. Antara lain tentang patriotisme dan cinta tanah air, lingkungan hidup, kritik dan keadilan sosial, gaya hidup, cinta, dan yang terakhir tentang rakyat kecil dn kepedulian sosial. (M.A. - Fals, Nyanyian di Tengah Kegelapan)

Termasuk peristiwa alam Gerhana Matahari, dijadikan beliau sebagai inspirasi untuk menciptakan lagu.
Puisi Gelap...

Lirik dan Video bisa langsung cek dibawah ini ya bos.

(koreksi jika ada kesalahan penulisan)

Puisi Gelap
Iwan Fals & Jabo (Album Orang Gila 1994)

Langit gelap
Jutaan gagak hitam memenuhi langit
Datang dari goa goa yang gelap dan lembab
Dari padang yang kering tandus
Merentang sayap berputar putar mengerikan

Suaranya melengking menyayat
Amarah yang terpendam amarah tertahan
Gentayangan bagai mayat bangun dari kuburan
Karena mereka pun tak mau menerima

Gerhana matahari gerhana hidup
Mereka menutupi cahaya matahari
Memakan bangkai dari apa saja yang tersisa
Hinggap diatas tanah diatap rumah
Di dahan dahan pohon yang mati kering
Mengintai mangsa
Menanti bangkai temannya sendiri yang mati kelaparan

Bau bangkai menyengat dimana mana
Saling menerkam diantara mereka sendiri
Sekedar bertahan dari kematian yang segera datang menjemput

Tak ada cahaya matahari
Tak ada cahaya kehidupan
Tak ada apa apa
Hanya ada ketegangan dan keganasan
Ketegangan yang mengandung bencana

Gagak gagak terus berputar semakin banyak
Marah pada apa ?
Marah pada siapa ?
Marah pada marah yang tak terlampiaskan

Sampai pada saatnya nanti
Mereka jatuh terkapar dan mati

Tapi dimana cahaya kehidupan ?
Tak ada yang tahu

Hanya ada jutaan bangkai gagak
Berserakan berbau amis dan busuk

Ah
Bau busuk kehidupan
Menyusup menebar ke sudut sudut kota



Puisi GelapIwan Fals & Jabo (Album Orang Gila 1994)-------5545C430#iwanfals #kaosiwanfalsYT Kiki H
Posted by kaos iwan fals on Tuesday, March 8, 2016

Video Iwan Fals Janji Jokowi

Iwan Fals sukses menggelar konsernya yang bertajuk 'Untukmu Indonesia', pada akhir tahun 2015 lalu.

Konser yang berlokasi di Istora Senayan, Jakarta Pusat tersebut, Iwan Fals masih membawakan lagu-lagu yang temanya masih relevan dengan kondisi sosial-politik Indonesia saat ini.

Iwan Fals Janji Jokowi


Liriknya memang tidak begitu keras tapi lebih kepada semacam mengingatkan saja, bahwasanya jokowo pernah berjanji ini itu pada masyarakat waktu pemilu. Karena lagu ini pula memang kesanya malah mendukung jokowi. "Tidak ada urusan dukung-mendukung, yang ada urusan saya mendukung Indonesia," lanjut Iwan disambut riuh penonton.


"Bagaimana mewujudkan mimpi-mimpi, tentu kesepakatan kita bersama lewat presiden terpilih. Saya catat janji-janji itu. Mudah-mudahan ini menjadi support untuk Indonesia ke depan lebih baik lagi," tutur Iwan.

Menagih apa yang pernah diucapkan sang presiden, lagu Janji Janji Jokowi pun mengalun diiringi petikan gitar akustik Iwan.

Janji jokowi semoga terbukti
Janji Jokowi dinanti-nanti
Janji Jokowi bukan janji sembarang janji
Janji Jokowi janji presiden RI...

Janji Jokowi semoga bukan janji kompeni
Janji Jokowi semoga bukan janji surgawi


begitu penggalan lirik lagu tersebut


Agar lebih jos lagi, silahkan saksikan video rekaman konsernya dibawah ini



Janji Jokowi - Konser Iwan Fals Untukmu Indonesia...BB 5545C430...upload oleh Priadarsini D#soretugupancoran -#soretugupancoran -#hijau#janjijokowi
Posted by kaos iwan fals on Wednesday, February 24, 2016

Iwan Fals Suara Indonesia KompasTV



Iwan Fals Suara Indonesia KompasTV. Kompas TV sebagai TV berita dan inspirsi Indonesia memberi penghormatan bagi mereka yg telah menggemakan Suara Indonesia



Meriah bersama Penampilan Spesial Iwan Fal & Band

serta artis-artis lainnya.

Suara Indonesia
Kamis, 28 Jan 2016
19.30 WIB
Live KOMPAS TV



 Info lengkp bisa juga dilihat dalam video berikut :
Suara Indonesia
Suara IndonesiaKompas TV#iwanfals #kaosiwanfals
Posted by _dwisTROi_ for your fals collection on Sunday, January 17, 2016

Sipkan kopimu Bos, silahkan duduk paling depan*




*Paling depan TV masing-masing

Iwan Fals Konser di Jogja Lagi

Sebelumnya dwisTROi menguncapakan Selamat HUT ke 259 untuk Kota Jogja, pas saat tulisan ini ditulis (7 Oktober 2015).




Akhir bulan ini, Kota Jogja akan kembali kedatangan Sang Legenda Musik Indonesia dalam acaraYOGYAKARTA Wismilak Diplomat Mild PassionVille.

Acara akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 24 Oktober 2015, pukul 21:30 s/d 23:00 WIB di Stadion Kridosono - Jogja.

HTM sangat terjangkau Rp. 15.000 saja.

Tiket bisa didapat melalui :

Solo Radio 92.9 -Solo dan Swaragama Yogyakarta.

Untuk yang dari luar Jogja, pemesanan bisa melalui Indomaret (Seluruh Indonesia).


sumber FP 3R.

Iwan Fals Gelar Konser Amal di Jepang

KONSER AMAL UNTUK KEMANUSIAN MENYAPA JEPANG BERSAMA IWAN FALS


Konser Amal Iwan Fals


Ikuti Charity Concert “Symphoni For Humanity”
Sabtu 4 April 2015

Dalam Symphony for Humanity itu Iwan Fals sang legendaris akan berkolaborasi dengan Kikan dan Bondan Prakoso.
Konser Amal Iwan Fals ini akan dilaksanakan di Nagoya Pkl 6:00 PM to 10:00 PM (JST)  waktu setempat.
Bersatulah.. Indonesia.. !!!

Konser Iwan Fals di Jepang

Acara ini diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.

Pemesanan Tiket Via Online melalui halaman ini.

Kantata Takwa : Ketika Iwan Fals Masih Mirip Che Guevara 2

Iwan Fals - Kantata Takwa
Iwan Fals - Kantata Takwa

Baca dulu Kantata Takwa : Ketika Iwan Fals Masih Mirip Che Guevara 1 disini

Masihkah relevan?

Asumsi yang digunakan sebagai landasan untuk membangun tema Kantata adalah model perlawanan terhadap kekuasaan Orde Baru dekade 1990-an. Pada dekade itu, konsolidasi ideologi Orde Baru sudah rampung dan kekuasaan negara dioperasikan hingga ke mana-mana. Operasi itu berasal dari sumber tunggal yang bernama Soeharto. Orientasi kekuasaan adalah Soeharto, karena sudah tak ada lagi lawan politik yang relatif sejajar dengannya dengan kekalahan penentang-penentang seangkatannya (atau yang sedikit di bawahnya) dan semua yang berhasil mendekati pusat kekuasaan adalah yang paling dekat secara ideologis dengannya. Mesin penggerak birokrasi dan kemasyarakatan juga berpusar pada orientasi serupa, sesudah negara mengalami korporatisasi seperti yang biasa terjadi pada negara-negara fasis. Maka kekuasaan Soeharto menjadi pemegang kekuasaan yang omnipresent karena seluruh operasi kekuasaan berorientasi kepadanya.

Kantata Takwa bicara dengan sebuah asumsi semacam itu. Mesin operasi kekuasaan menjangkau bahkan hingga ke tempat-tempat yang musykil seperti mimpi manusia. Maka mencatat mimpi pun menjadi sangat penting demi melawan kekuasaan yang semengerikan itu (sebelum bermimpi dilarang, ungkapan yang akrab pada dekade itu). Lihat misalnya bayangan manusia bertopeng gas yang menembaki orang di hutan-hutan atau pun ketika ketika Iwan Fals bermimpi giginya dicabuti oleh tentara agar ia tak bisa bernyanyi lagi. Apatah lagi pengadilan politik terhadap estetika seperti yang dialami oleh Si Burung Merak, Rendra. Pengadilan sebagai lembaga yang seharusnya suci dipenuhi oleh kemunafikan. Tampak sekali film ini menunjukkan gesture jijik terhadap lembaga pengadilan.

Tapi masihkah kekuasaan serbamaha yang tunggal macam tuhan itu beroperasi dengan cara seperti yang dialami dan dibaca oleh seniman dekade lalu ini? Inilah pertanyaan yang mengguyahkan gagasan dasar film ini ketika ia lahir sebagai produk tahun 2008. Indonesia pascareformasi justru ditandai dengan fragmentasi luar biasa dalam berbagai usaha meraih dan mempertahankan kekuasaan. Operasinya dalam kehidupan sosial budaya juga demikian beragam dengan agenda yang tak tampak beraturan. Perlawanan ideologi dan politik dalam arena kekuasaan yang pernah menjadi begitu penting, mungkin kini kalah penting dibandingkan dengan perjuangan untuk menampilkan sebuah ideologi pinggiran dalam sebuah film mainstream –yang kemudian menghasilkan pembicaraan publik mengenai substansinya.

Agenda politik dalam kesenian mungkin kini lebih cair dan tak semata melawan atau tunduk pada penyelewengan kekuasaan. Perjuangan politik mungkin kini agak tak disadari oleh para seniman –sekalipun aneh rasanya, ada seniman yang tak sadar akan implikasi politis karya mereka sendiri. Artikulasi juga sudah berubah seiring agenda untuk mengelak dari jebakan-jebakan pengulangan bentuk. Arena pertarungan juga sudah tak lagi pada tingkat pembentukan wacana dan narasi besar yang akan menghela seluruh gerbong bernama negara bangsa, tetapi menghadirkan cerita-cerita kecil guna melakukan semacam gerilya budaya yang secara tiba-tiba bisa menyeruak dalam pembicaraan publik yang serius, atau malah jadi kebijakan.

Maka ketika Kantata Takwa meletakkan asumsi adanya satu despot yang omnipresent dan beroperasi dari sumber yang tunggal, ia terasa menjadi sebuah artefak sejarah politik. Ia hanya mudah dikenali sebagai sebuah perlawanan terhadap model kekuasaan Soeharto dan sulit diacu pada model persoalan kekuasaan sekarang ini. Soalnya sesederhana bahwa panggung sudah berubah dan pentas yang dimainkan adalah lakon lama.

Demikian pula halnya dengan ungkapan jilbab sebagai bentuk perlawanan. Jilbab saat ini sudah bertransformasi, tak lagi mewakili identitas ketakwaan seperti yang ingin disampaikan oleh film ini. Jilbab, bahkan di beberapa tempat, kini menjadi representasi dari represi ketika sekolah-sekolah mewajibkan para pelajar perempuan berjilbab, bahkan termasuk mereka yang beragama non-Islam. Maka ungkapan-ungkapan perlawanan simbolis yang diajukan oleh Kantata Takwa sesungguhnya memang tertinggal di dekade 1990-an, Indonesia sebelum reformasi.

Ungkapan

Apakah strategi estetika Kantata masih bisa bekerja dalam panggung yang sudah berubah ini? Sebagai sebuah karya eksperimental, Kantata cukup menjanjikan. Seperti dikatakan di atas, film ini justru menghadirkan inkoherensi dalam kosa gambar dan cara ungkap.

Dalam film model ini, sebenarnya penonton diminta untuk membuat rambu-rambu personalnya sendiri. Dengan demikian ia akan bisa mengacu kepada pengalaman-pengalaman subjektif penonton. Maka terciptalah sebuah pemaknaan arbitrer pada karya ini. Dengan model pembacaan subjektif seperti ini, diharapkan penonton memberi makna baru sama sekali yang bahkan berlainan dengan niatan para kreator.

Namun sayangnya Kantata Takwa tidak diniatkan untuk menjadi karya seperti itu (sekalipun mungkin seharusnya dibaca begitu). Seperti sudah dikatakan di atas, tema film ini koheren sekali. Acuan simbol Kantata Takwa kelewat jelas, bahkan vulgar. Film ini menggunakan estetika puisi pamflet Rendra dan teriakan lagu jalanan Iwan Fals yang terasa ”marah” di awal dekade 1990-an, bukan Iwan Fals yang penuh canda seperti di awal masa karirnya. Kemarahan dan munculnya gesture jijik sesekali dalam film ini serasa tak memberi ruang cukup buat penonton.

Namun untunglah sutradara film ini cukup jeli menangkap figur Iwan Fals. Ruang lebih luas diberikan sesekali oleh figur ini. Perhatikan adegan diskusi mengenai rencana pembentukan grup musik Kantata Takwa. Dalam footage diskusi yang singkat itu, Iwan menyatakan keengganannya jika kelompok ini ”berdakwah” dalam pengertian yang sempit. Iwan mungkin marah pada keadaan, tapi ia tak ingin menyatakan bahwa kemarahannya itulah satu-satunya yang sah dengan mendakwahkannya; berbeda sekali dengan sikap Rendra (dan film ini secara keseluruhan) yang bahkan menghakimi balik penghakiman terhadapnya.

Demikian pula percakapan Iwan dengan anak-anak di tepi kali kecil. Iwan memperlihatkan sikap seorang seniman rendah hati yang berposisi sederajat dengan anak-anak yang mandi telanjang di kali itu. Ia bernyanyi bersama dan melawan kesewenang-wenangan (masa itu) dengan riang dan tetap bersuara tegas. Maka transformasi teriakan ”Bento!” dari anak-anak itu menjadi teriakan massa di Stadion Utama Senayan bagaikan melihat transformasi kekecewaan yang tulus para mahasiswa di tahun 1998 yang berubah menjadi kekuatan massa untuk menjatuhkan Soeharto.

Pada titik inilah inkoherensi cara ungkap film ini jadi cukup memberi keragaman dan ruang. Jika tidak, simbolisme yang vulgar, tema yang so last decade dan kemarahan dan gesture kejijikan akan membuat film ini jadi semacam rejim estetika yang memaksa penonton dengan klaim kebenarannya. Padahal secara umum saja, Kantata Takwa dengan segala ketidakakraban kekisahannya sudah melakukan seleksi awal yang ketat terhadap publik.

Klise

Sudah pasti KantataTakwa bukan produk populer. Namun secara sinematis, ia akan memberikan pertanyaan terhadap ungkapan estetika para pembuat film Indonesia masa kini. Kapankah sineas Indonesia bisa mengungkapkan apa saja yang diinginkannya, hingga bahkan nyaris mencapai taraf nonsens (Gotot mengakatan hal ini langsung pada saya: film ini sempat terendam banjir tapi gak papa, jadinya gambarnya malah asyik...) tanpa adanya halangan sama sekali?

Baiklah, di balik film ini ada uang taipan minyak yang nyaris tak terbatas ketika itu (bayangkan: 30 kamera!) tapi bukankah sumber dana untuk karya yang bebas tak pernah dibatas-batasi harus berasal dari kantong sendiri? Yang justru menarik ditanyakan adalah: akan seperti apa jadinya film ini seandainya Setiawan Djody ikut serta dalam penyelesaiannya.

Mungkin film ini tak akan banyak ditonton kecuali di lingkaran festival. Tak sepadan antara investasi yang pernah dibuatnya dengan capaian artistik, apalagi komersialnya; bahkan tak sepadan pula dengan pembicaraan tentangnya yang rasanya sepi-sepi saja. Para wartawan film pun bahkan tak tahu bahwa film ini akhirnya selesai dan ditayangkan perdana di Singapura.

Namun Kantata tetap mengingatkan bahwa seniman seperti Iwan Fals pernah nyaris se-revolusioner Che Guevara. ”Kepahlawanan” mereka sekarang ini mungkin lebih menarik jadi gimmick untuk menjual majalah atau menjadi komoditi sodoran ironi dan lelucon political-incorrect-ness. Kantata kini tetap mengajukan semacam perayaan kecil, bernama kebebasan seniman menyampaikan estetika yang mereka percaya. Klise memang. Tapi ketika para sineas sedang kasip berombongan untuk menjadi konformis dan konformitas sedang dipuja-puji, klise semacam ini, toh, rasanya relevan. Sebuah klise, karena terlalu pahamnya kita akan hal itu, memang kerap kita lupakan.***

Judul Film: Kantata Takwa; Sutradara: Eros Djarot dan Gotot Prakosa; Supervisi: Slamet Rahardjo Djarot; Cast: Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Clara Shinta, Setiawan Djody, Jocky Suryoprayogo dan Bengkel Teater Rendra. 

Sumber : gemarnonton

Kabinet Kutil Iwan Fals

Kabinet Kutil - Iwan Fals. Kabinet baru sudah diumumkan oleh Presiden Terpilih kemarin (Minggu, 26 Oktober 2014). Ngomong-ngomong soal kabinet, jadi ingat sama salah satu lagu Iwan Fals (Lagu Iwan Fals yang tidak bererdar - dibawakan di panggung UGM, Mei 1998). 

Kabinet Kutil
Kabinet Kutil

Disini, kami bukan untuk membahas Kabinet baru ataupun pro kontra terkait kabinet baru tersebut. Tetapi lebih ke Lirik Lagu Kabinet Kutil karya Iwan Fals.

Simak Lirik Lagu Kabinet Kutil dibawah ini :

Kabinet Kutil - Iwan Fals

Sibuk bikin kabinet
Rakyat lagi kegencet
Ekonomi kepepet
Terpaksa jadi jambret

Maklum susah, Bung !
Daripada ngelamun
Maklum pusing, Bung !
Sidang di dapur umum

Wakil rakyat bahenol
Perutnya ngejendol
Pintar-pintar bikin dogol
Lagi hobi ngebanyol

Si bos Marsinem
Ngentitnya pilih kasih
Ngerokok dulu ah
Baru ngebanyol lagi

Bikin feeling kabinet
Komisi jangan ngaret
Isinya kecil-kecil

Hampir sebesar kutil
Kutil, kutil, kutil
Hidup kutil !

yang mau download lagu diatas, klik disini !

Bagaimana menurut kalian tentang lirik lagu diatas?
Semoga, Indonesia bisa lebih baik. amin.

Pasti kuangkat engkau, Menjadi manusia setengah dewa.

Konser Iwan Fals Nyanyian Raya Diundur

Konser Nyanyian Raya
Konser Nyanyian Raya

Konser Nyanyian Raya Diundur. Konser Iwan Fals berjudul “Nyanyian Raya” akhirnya digeser ke tahun depan setelah semula direncanakan dihelat pada November tahun ini.

Dalam siaran pers yang diterima PortalKBR, konser ini akhirnya digeser dengan alasan ‘demi kesuksesan acara’. 

Dalam beberapa kesempatan di Twitter, Iwan Fals beberapa kali menyebutkan rencana soal konser “Nyanyian Raya” – salah satunya adalah menghadirkan 4 juta penonton untuk bersama-sama memecahkan rekor dan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” versi tiga stanza. 

Konser yang bekerja sama dengan NET TV dan Green Radio ini dirancang sebagai konser yang menggebrak dan menghibur banyak orang. “Karena itu, ini akan dijadikan acara spesial di tahun 2015 dengan tajuk “NET Nyanyian Raya”,” kata Wishnutama, CEO NET. Televisi Masa Kini dalam siaran persnya. 

Sementara itu sang legenda Iwan Fals mengaku ingin mengulang kesuksesan rangkaian konser “Suara untuk Negeri” yang berlangsung pada tahun ini. 

“Merupakan sebuah kesuksesan dan kebanggan tersendiri bagi saya untuk dapat menyuguhkan program yang inspiratif bagi masyarakat Indonesia,” kata Iwan Fals dalam siaran pers. 

Konsep konser “Nyanyian Raya” masih sama seperti semula yaitu menjalin silaturahmi, menyanyikan lagu “Indonesia Raya” bersama, mengangkat nilai-nilai tradisi sekaligus menjaga keseimbangan alam dengan menjadi cerdas lingkunga, melalui kegiatan penanaman dan peduli sampah. 

Khusus soal sampah, sehari setelah acara Syukuran Rakyat di Monas, Iwan Fals mencuit,”Diprediksi sampah pesta kemarin 100 ton, gimana Nyanyian Raya ya waduuh”.

Soal tanggal pasti perhelatan akbar konser “Nyanyian Raya” berikut musisi pendukungnya akan dikabarkan lewat jumpa pers selanjutnya di Desember 2014.

sumber : KBR

Nyanyian Raya - Kaos Nyanyian Raya


"Sebentar lagi kita akan menyaksikan

KONSER NYANYIAN RAYA". 
Sudahkan Anda memiliki 

KAOS NYANYIAN RAYA...?

"kami menyediakan "KAOS NYANYIAN RAYA" khusus buat Anda"

Kaos Nyanyian Raya
Kaos Nyanyian Raya

Kaos Nyanyian Raya
Kaos Nyanyian Raya

detail ukuran kaos nyanyian raya
Detail ukuran Kaos Nyanyian Raya

Kaos Nyanyian Raya 

 Kaos Nyanyian Raya


twitter : @dwistroi
BB : 7F5B6F68

Selfie Competition Bergaya Mirip Iwan Fals

Anda suka sama bang Iwan Fals ?
Anda ngefans banget sama Iwan Fals ?

SELFIE COMPETITION MIRIP IWAN FALS
SELFIE COMPETITION MIRIP IWAN FALS

kalau jawabannya Iya,

sobat semua sudah pernah foto dengan gaya mirip Iwan Fals belom nih?
ini ada kuis "Selfie Competition Bergaya Mirip Iwan Fals " , lumayan lho hadiah total sampai 3 juta.

mau ?

Waktu terbatas.

bagi yang berminat buruan langsung cek TKP disini.

www.CodeNirvana.in

Powered by Blogger.
Blog dwisTROi blog online sejak 2007 | Template By Code Nirvana